NU DALAM KOREOGRAFI QONUN ASASI DAN MADILOG
Saranapos.com, Elaborasi Kritis Pergumulan Pemikiran Hadratusy Syeikh Hasyim Asy'ari dan Tan Malaka
Di atas panggung sejarah peradaban Nusantara yang bergolak di paruh pertama abad ke-20, perjumpaan antara ortodoksi keagamaan dan marxisme revolusioner kerap dijatuhi vonis sebagai antinomi yang tak terperbaiki—sebuah jurang ontologis yang mustahil dijembatani. Namun, apabila dibaca secara kritis melalui lensa filsafat kebudayaan dan hermeneutika keagamaan, perjumpaan antara Qonun Asasi karya Hadratusy Syeikh K.H. Hasyim Asy'ari dan Madilog (_Materialisme, Dialektika, Logika_) karya Tan Malaka bukanlah sebentuk pertentangan dogmatis yang membeku. Sebaliknya, kedua mahakarya tersebut menyusun sebuah koreografi pemikiran yang ritmis, presisi, dan meledak-ledak—sebuah peragaan dialektikal tempat transcendentitas nilai-nilai ilahiah menari bersama tuntutan materialisme emansipatoris demi membebaskan jiwa serta raga manusia yang terjajah.
Fajar abad ke-20 menyibak kondisi Nusantara yang berdiri tegar namun hancur di atas serpihan trauma feodalisme internal dan dehumanisasi kolonialisme Barat. Bangsa ini terperangkap dalam apa yang dinamakan Tan Malaka sebagai "logika mistika"—suatu struktur kesadaran palsu yang menaklukkan rasio manusia di hadapan kekuatan takhayul, keramat, dan pasrah pada nasib takdir yang pasif. Di sisi lain, dekonstruksi nilai-nilai spiritual akibat imperialisme kapitalistik memicu keterasingan eksistensial yang parah. Dalam situasi historis yang amat krisis inilah, Qonun Asasi lahir sebagai fondasi teo-sosiologis Nahdlatul Ulama (NU) untuk merajut kembali rajutan sosial yang robek, sementara Madilog meledak dari ruang persembunyian sebagai pamflet metodologis sains dan pembebasan empiris. Keduanya bersekutu secara tak sadar untuk menghancurkan cengkeraman perbudakan mental dan fisik.
Dialektika Kebudayaan: Menghancurkan Logika Mistika dan Alienasi
Tan Malaka menegaskan dalam Madilog bahwa muara utama dari keterbelakangan masyarakat terjajah bersumber dari kegagalan cara berpikir yang runtut, ilmiah, dan berlandaskan realitas. Logika mistika bukan sekadar fenomena kebudayaan yang tak bersalah, melainkan alat penindasan epistemologis yang mengajari manusia untuk menerima kemiskinan dan perbudakan sebagai kehendak takdir alam gaib. Hal ini mematikan daya kritis, menumpulkan kehendak merdeka, serta melanggengkan _status quo_ kolonial. Bagi Tan Malaka, materialisme bukanlah bentuk penolakan atas nilai-nilai moralitas atau keberadaan yang transenden, melainkan sebuah kesadaran metodologis bahwa realitas objektif harus dipahami melalui hukum-hukum alam yang terukur, dapat diuji secara empiris, dan diubah melalui aksi sejarah yang nyata (_praxis_).
Menariknya, pembacaan kritikal terhadap Qonun Asasi menemukan gaung emansipasi yang tak kalah dahsyat, meski bergerak dari orbit metafisika Islam. K.H. Hasyim Asy'ari menyusun Qonun Asasi bukan sekadar sebagai statuta organisasi formal, melainkan sebagai risalah kebudayaan radikal yang membongkar fragmentasi sosial, kebodohan, dan ketiadaan persatuan. Dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis secara presisi, Kiai Hasyim menyerukan pencerahan akal budi dan penguatan kelembagaan sosial. Persaudaraan (_ukhuwah_) yang dicanangkan NU adalah bentuk perlawanan rasional terhadap strategi _devide et impera_ kolonial. Jika Tan Malaka membakar takhayul dengan sains empiris, Kiai Hasyim menyapu kesadaran fatalistik dengan tauhid emansipatoris—menegaskan bahwa penghambaan mutlak kepada Allah secara otomatis membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia atau kekuatan gaib yang ilusi.
Pemikiran ini meledak seraya beresonansi secara intelektual dengan filsuf Muslim ternama, Ibn Rusyd (Averroes). Dalam mahakaryanya _"Fasl al-Maqal"_, Ibn Rusyd menegaskan bahwa kebenaran wahyu tidak akan pernah bertentangan dengan kebenaran rasionalitas sains; sebab keduanya berasal dari sumber yang sama. Ibn Rusyd menggariskan bahwa akal adalah instrumen ilahiah paling luhur untuk memahami realitas objektif ciptaan Tuhan. Ketika Madilog menuntut ketajaman logika empiris, ia sejatinya menapak jalur kesadaran rasional yang pernah dirintis oleh tradisi falsafah Islam. Alienasi manusia dari realitas materiilnya—sebagaimana diperingatkan oleh para penerima Nobel Sastra seperti Jean-Paul Sartre—hanya bisa disembuhkan jika manusia merebut kembali otentisitas kebebasannya untuk bertindak, berpikir, dan merdeka di dalam sejarah.
Koreografi Ontologis: Tauhid yang Berbumi dan Madilog yang Berjiwa
Bagaimanakah Qonun Asasi dan Madilog menari dalam satu panggung kebudayaan tanpa saling menghancurkan? Jawabannya terletak pada sintesis ontologis antara yang transenden dan yang imanen. Tanpa pembumian materiil, spiritualitas rawan runtuh menjadi candu obskurantis; dan tanpa jangkar etis-transenden, materialisme rawan terjerembet ke dalam nihilisme mekanistik.
Qonun Asasi menegaskan bahwa _ukhuwah Islamiyah_ dan kesadaran kolektif adalah syarat mutlak bagi keselamatan materiil dan spiritual umat. Kiai Hasyim Asy'ari mengutip pandangan filosofis bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang keberadaannya saling tergantung secara mutlak. *Tanpa struktur kebudayaan yang adil, kelembagaan yang kokoh, dan solidaritas sosial yang konkrit, tauhid akan terisolasi menjadi dogma eskapis yang mandul.* Di titik ini, Qonun Asasi menuntut "pembedatangan" atau pembumian nilai-nilai spiritual ke dalam tanah realitas sosial-ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, Madilog menyediakan kompas metodologis dan analisis kognitif bagi cita-cita sosial tersebut. Dialektika Tan Malaka mengajarkan bahwa masyarakat tidak pernah bersifat statis, melainkan bergerak secara dinamis melalui pertentangan kontradiksi sosial dan menuntut sintesis baru. Materialisme Tan Malaka memastikan bahwa perjuangan pembebasan tidak tenggelam dalam utopia eskatologis yang mengabaikan ketimpangan ekonomi, kelaparan, dan penindasan fisik. Logika dan sains yang diusung Madilog menjadi sarana kognitif agar keadilan sosial yang diimpikan dalam Qonun Asasi dapat terwujud secara terukur dan nyata.
Filsuf Muslim ternama Muhammad Iqbal dalam mahakaryanya _"The Reconstruction of Religious Thought in Islam"_ memberikan landasan konseptual bagi sintesis ini. Iqbal menyatakan bahwa Islam bukan sekadar dogma pasif, melainkan sebuah gerakan dinamis yang bertujuan mengubah dunia materiil agar selaras dengan prinsip-prinsip keutuhan roh. Iqbal berargumen bahwa dunia nyata (_materi_) adalah arena tunggal di mana roh menyatakan dan menguji dirinya. Dengan demikian, pendekatan dialektis dan logis terhadap realitas materiil yang dituntut oleh Madilog sejatinya adalah pemenuhan tugas spiritual yang diamanatkan dalam Qonun Asasi.
Historiografi dan Kebangkitan Peradaban: NU sebagai Sintesis Pembebasan
Secara empiris dan historis, koreografi antara logika rasional-material dan spiritualitas transformatif ini tercatat jelas dalam perjalanan Nahdlatul Ulama serta pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ketika Resolusi Jihad dicetuskan oleh K.H. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945, perintah fatwa tersebut bukanlah keputusan yang lahir dari imajinasi mistik pasif, melainkan hasil analisis rasional yang amat tajam terhadap kalkulasi geopolitik, kekuatan materiil, dan keberadaan militer Sekutu yang mengancam kedaulatan fisik Republik Indonesia.
Historiografi menunjukkan bahwa mobilisasi massa santri dan pejuang rakyat dalam Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya merupakan wujud nyata dari dialektika sejarah. Spiritualitas tauhid memberikan daya tahan moral yang tak terbatas, sementara taktik pertempuran darat, penguasaan logistik, dan garis komando memanfaatkan logika ketentaraan serta analisis materialitas lapangan secara presisi. Ini adalah momen puncak di mana keimanan Qonun Asasi dan metode ketajaman Madilog menyatu secara sempurna dalam praksis revolusi pembebasan.
Dalam sejarah kontemporer, transformasi NU menjadi organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia dengan lebih dari 100 juta konstituen empiris—yang mengelola puluhan ribu pesantren, universitas, rumah sakit, hingga jaringan ekonomi kerakyatan—membuktikan keberhasilan penggabungan tata nilai keagamaan dan manajemen rasional-modern. Sebagaimana diungkapkan oleh peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen dalam karyanya _"Development as Freedom"_, pembangunan sejati bukanlah sekadar akumulasi barang materiil, melainkan perluasan kapabilitas manusiawi untuk berpikir kritis, berpartisipasi, dan menentukan nasibnya sendiri. NU melalui koreografi nilai-nilainya telah memperluas kapabilitas tersebut secara masif di tingkat akar rumput.
Penutup:
Menuju Kebudayaan Emansipatoris Masa Depan
Koreografi antara Qonun Asasi dan Madilog menawarkan sebuah epistemologi pembebasan yang sangat relevan di tengah gelombang neoliberalisme dan neo-obskurantisme abad ke-21. Ketika rasionalitas modern cenderung mengalami demoralisasi menjadi teknokrasi dingin, nihilisme, dan eksploitasi ekologis, Qonun Asasi menyuntikkan jangkar etis serta nilai kemanusiaan universal yang bersumber dari Ilahi.
Sebaliknya, ketika keagamaan rawan dimanipulasi oleh populisme dogmatis dan penafsiran harfiah yang mematikan nalar, Madilog bertindak sebagai penguji rasional yang kejam—menuntut setiap kebenaran klaim keagamaan untuk membuktikan kemanfaatannya secara empiris bagi keadilan sosial dan kesejahteraan materiil umat manusia.
Hadratusy Syeikh Hasyim Asy'ari dan Tan Malaka mungkin berangkat dari titik pijak epistemologis yang berbeda, namun langkah kaki mereka bertemu dalam satu tujuan sejarah yang sama: merobek rantai perbudakan mental, membakar takhayul penindasan, dan meletakkan fondasi bagi manusia Nusantara yang merdeka secara rasio, teguh secara jiwa, serta berdaya secara materiil. Dalam koreografi pemikiran inilah, masa depan kebudayaan dan keagamaan Indonesia menemukan tarian pembebasannya yang paling otentik.
oleh: Gus Nas Jogja.(Red)

Tidak ada komentar