OJO DISRIMPETI
Saranapos.com, Transendensi Spiritual-Sosial, Restrukturisasi Tata Kelola, dan Dialektika Kepemimpinan PBNU Era Baru
Sesaat setelah Penutupan MUKTAMAR NU KE-35 di Tambakberas dan kembali memasuki Pesantren Tebuireng, Gus Kikin disambut ribuan santri Tebuireng dengan gemuruh Suara Shalawat dan dikalungi Tasbih dan penyerahan Tongkat oleh KH. Riza Yusuf lalu berjalan hingga memasuki area Makam Hadratusyaih Hasyim Asy'ari untuk melakukan semacam _spiritual exercise_ bersama Dzurriyah Tebuireng. Sesudah melakukan, dzikir, tahlil dan doa, ditutup dengan Tausiah dari Menteri Haji, KH. Mochamad Irfan Yusuf yang menegaskan diksi berikut: _"Amanah sebagai Ketua Umum PBNU yang disandang oleh Gus Kikin hendaknya dijaga bersama seluruh Dzurriyah Hadratusyaih Hasyim Asy'ari dan Alumni Tebuireng serta semua Warga Nahdliyin, dengan menegaskan: *Ojo Disrimpeti.*"_
Frasa *Ojo Disrimpeti*—sebuah imperatif moral lokal yang berakar kuat pada kearifan ekologis dan sosiologis Nusantara—mengandung kedalaman epistemologis yang melampaui sekadar retorika verbal. Secara denotatif dan konotatif, ia memancarkan makramah etis: berikan bantuan semampu kita dan jangan diganggu. Di tengah gelombang zaman yang ditandai oleh disrupsi geopolitik, volatilitas ekonomi global, dan fragmentasi diskursus keagamaan, peribahasa spiritual ini bertransformasi menjadi maklumat filosofis sekaligus manifesto kepemimpinan bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ontologi Ojo Disrimpeti: Kebudayaan dan Transendensi Keagamaan
Dalam lintasan sejarah peradaban, kepemimpinan spiritual-keagamaan kerap berhadapan dengan bahaya entropi internal: friksi faksional, ambisi pragmatis, dan distorsi prosedural. *Ojo Disrimpeti* hadir sebagai ontologi kritik. Kata *disrimpeti* (dijegal, dihalangi, atau disandung) bukan sekadar menunjuk aksi fisik, melainkan metafora atas tindakan keculasan sistemis yang mengorbankan kemaslahatan kolektif demi insentif sektarian.
Syaikh Ibn 'Atha'illah as-Sakandari dalam _*Al-Hikam"_ menegaskan:
_"Rasa ragu dan tindakan merintangi jalannya kebaikan adalah pertanda dari tertutupnya bashirah (mata hati) oleh kabut syahwat kekuasaan."_
Ketika KH. Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan memantik diksi ini di hadapan pusara Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, _spiritual exercise_ tersebut bertindak sebagai dekonstruksi atas cara pandang kekuasaan yang profan. Kedatangan KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) di Tebuireng pasca-Muktamar ke-35 menegaskan kembali prinsip _Ruju' ila al-Ashl_ (kembali ke akar tunggang spiritual). Tebuireng bukan sekadar entitas geografis, melainkan _episentrum cosmopolis_ Nahdliyin tempat nilai-nilai Jam'iyyah dan Jama'ah disintesiskan.
Filsafat kebudayaan Jawa-Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan (*Sang Pamomong*) membutuhkan ruang gerak yang _steril dari srimpetan_ (hambatan buatan) agar mampu mengejawantahkan rahmatan lil 'alamin. Dalam perspektif Syaikh Muhammad Abduh, stagnasi peradaban Islam kerap kali dipicu bukan oleh kekuatan eksternal, melainkan oleh sifat _al-ghill_ (kedengkian internal) yang merusak tata kelola kelembagaan. Maka, *Ojo Disrimpeti* adalah perintah kebudayaan untuk menghentikan kanibalisme politik di tubuh jam'iyyah, menggantinya dengan komitmen _at-ta'awun 'alal birri wat taqwa_ (saling menopang dalam kebajikan dan ketaqwaan).
Aksiolologi Kepemimpinan: Re-Engineering Tata Kelola PBNU
Sejalan dengan dinamika abad ke-21, *keagungan spiritual NU harus dibumikan melalui penguatan literasi manajemen dan rasionalitas organisasi.* Sebuah organisasi keagamaan dengan basis konstituen yang diperkirakan mencapai lebih dari 50% populasi muslim Indonesia tidak lagi bisa dikelola secara konvensional-paternalistik belaka. Ia membutuhkan sintesis antara kepemimpinan karismatik-transendental dan tata kelola berstandar internasional (_Good Corporate Governance / Good Faith Governance_).
Mekanisme alur kepemimpinan berawal dari pemaknaan mendalam atas nilai-nilai muasis dan nilai spiritualitas yang dipancarkan oleh Hadratusyaih KH. Hasyim Asy'ari. Pancaran spiritualitas ini diekstrak menjadi prinsip kepemimpinan *Ojo Disrimpeti*, yang secara operasional bercabang ke dalam dua pilar utama: manifestasi tata kelola modern di satu sisi, dan penguatan serta pemberdayaan jam'iyyah di sisi lainnya.
Muasis NU, Mbah Ridwan Abdullah, saat menciptakan lambang NU yang megah, memasukkan untaian tali yang melingkari bumi secara melonggar—sebuah simbol persatuan yang tidak mencekik, namun mengikat kuat. Dalam kontekstualisasi kepemimpinan PBNU era baru, prinsip *Ojo Disrimpeti* menerjemahkan falsafah ini ke dalam pilar-pilar manajemen strategis:
_1. Meritokrasi dan Profesionalisme Penataan SOTK_
Mekanisme kepengurusan dan pendelegasian wewenang di tubuh PBNU harus terbebas dari favoritisme nepotis. Setiap departemen dan lembaga teknis wajib dipimpin oleh figur yang memiliki komparatif kompetensi (_kafa'ah_) serta integritas (_amanah_). Sesuai kaidah fiqhiyah:
_"Tasharruful imam 'ala ar-ra'iyyah manutun bil maslahah"_ atau "Tindakan pemimpin atas rakyatnya harus diorientasikan pada kemaslahatan".
_2. Transparansi Akuntabilitas dan Digitalisasi Aset_
PBNU mengelola ribuan pesantren, puluhan ribu madrasah, perguruan tinggi, serta rumah sakit. Tanpa sistem pencatatan berbasis digital yang terintegrasi, potensi aset jam'iyyah akan mengalami kebocoran (_financial leakage_). Manajemen modern menuntut audit finansial secara berkala demi menegakkan marwah organisasi.
_3. Independensi Strategis dari Kooptasi Capital-State_
PBNU harus bertindak sebagai benteng moral (_moral force_) dan agen penyeimbang (_counter-weight_) yang independen. *Ojo Disrimpeti* berarti memberikan ruang otonomi penuh kepada tanfidziyah dan syuriyah untuk mengambil keputusan maslahat tanpa diintervensi oleh agenda-agenda politik praktis yang berpikiran pendek (_short-term political gain_).
Tantangan Demografis dan Institusional Nahdliyin
Guna memahami urgensi literasi manajemen ini, kondisi empiris menunjukkan besarnya skala tanggung jawab yang diemban PBNU. Transformasi demografis menuntut kepemimpinan yang presisi dan terukur:
*1. Dimensi Demografi dan Penetrasi Basis Konstituen*
Dengan estimasi basis konstituen Nahdliyin yang mencapai rentang 100 hingga 120 juta jiwa berdasarkan berbagai hasil survei lembaga nasional, PBNU dihadapkan pada tantangan penetrasi program secara merata. Implikasi manajemennya menuntut kehadiran struktur organisasi yang tidak hanya solid di tingkat pusat, melainkan mampu menjangkau hingga tingkatan Ranting dan Anak Ranting secara presisi dan terstruktur.
*2. Aset dan Tata Kelola Lembaga Pendidikan Dasar-Menengah*
Di bawah naungan LP Ma'arif dan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), PBNU menaungi lebih dari 28.000 pondok pesantren dan lebih dari 35.000 madrasah serta sekolah umum. Skala institusional yang masif ini berimplikasi langsung pada urgensi standarisasi mutu kurikulum nasional, penataan finansial yang transparan, serta kepastian perlindungan hukum atas aset-aset fisik seperti tanah wakaf agar tidak tergerus sengketa.
*3. Pengembangan Pendidikan Tinggi (PTNU)*
Keberadaan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama yang tersebar di seluruh penjuru wilayah membutuhkan orientasi manajemen berbasis kualitas global. PBNU perlu mendorong akselerasi riset, klasterisasi sains-teknologi, dan peningkatkan akreditasi kelembagaan agar mampu bersaing dengan universitas bertaraf internasional.
*4. Tantangan Bonus Demografi Generasi Muda*
Populasi Nahdliyin saat ini didominasi oleh Gen-Z dan Generasi Milenial yang porsinya diperkirakan mencapai lebih dari 55 persen dari total warga NU. Realitas ini menghendaki pergeseran paradigma kepemimpinan PBNU untuk lebih adaptif terhadap literasi digital, penyediaan sarana inkubasi kewirausahaan (_socio-technopreneurship_), serta penguatan narasi moderasi beragama di ruang siber.
Penjabaran empiris di atas mengonfirmasi bahwa tanpa manajemen yang solid, raksasa sosial bernama Nahdlatul Ulama ini dapat terancam oleh inefisiensi internalnya sendiri. *Di sinilah letak relevansi tausiah KH. Mochamad Irfan Yusuf: _Ojo Disrimpeti_ adalah permohonan agar energi kolektif organisasi tidak dihabiskan untuk manuver politik internal yang destruktif, melainkan difokuskan pada optimalisasi potensi empiris umat yang melimpah ini.*
Dialektika Kebudayaan: Epistemologi Perlawanan Terhadap Entropi Internal
Para ulama dunia telah lama mengingatkan bahaya perpecahan dari dalam. _Al-Allamah al-Muhaqqiq_ Muhammad al-Tahir ibn 'Ashur dalam karya monumentalnya _"Maqasid ash-Syari'ah al-Islamiyyah"_ menggarisbawahi bahwa salah satu tujuan utama syariat adalah _Hifzh Nizam al-Ummah_ (menjaga keteraturan sistem sosial masyarakat).
_"Keteraturan sebuah ummat tidak akan pernah tercapai apabila para pemimpinnya sibuk merebut tajuk kekuasaan, sementara para pengikutnya meruntuhkan tiang-tiang fondasi rumahnya sendiri dari dalam."_
Seruan *Ojo Disrimpeti* yang digaungkan dari Tebuireng adalah sebuah seruan kebudayaan anti-entropi. Dalam teori sistem kebudayaan, entropi terjadi ketika sebuah organisasi kehilangan keteraturannya dan meluncur menuju kehancuran akibat friksi internal. Kepemimpinan Gus Kikin di PBNU diuji untuk merajut kembali helai-helai kebersamaan yang sempat terurai selama dinamika Muktamar.
Proses dialektika kepemimpinan PBNU ini berawal dari Tesis Utama, yakni karisma ruhiyah yang menempatkan kepemimpinan berakar pada nilai-nilai para Muasis, tradisi luhur pesantren, dan pencarian barakah. Tesis ini berhadapan dengan Antitesis berupa ancaman disrupsi zaman, entropi internal, politisasi organisasi, serta inefisiensi tata kelola.
Melalui semangat *Ojo Disrimpeti*, terciptalah sebuah Sintesis Komprehensif di mana karisma ruhiyah disatukan secara harmonis dengan manajemen modern berbasis transparansi, akuntabilitas, dan rasionalitas kelembagaan.
Hadirnya Dzurriyah Hadratusyaih Hasyim Asy'ari dan alumni Tebuireng sebagai benteng moral mengisyaratkan bahwa kepemimpinan PBNU harus berakar pada Sanad Ruhiyah yang menyambung hingga Rasulullah SAW. Warga Nahdliyin diimbau untuk tidak menjadi *srimpet* (penjegal), melainkan menjadi *panyengkuyung* (penopang utama) kebijakan-kebijakan strategis PBNU.
Re-Aktualisasi Muasis: Menuju Jam'iyyah Abad Kedua NU
Memasuki abad kedua usianya, PBNU dituntut melakukan lompatan peradaban (_hadharah_). Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari dalam _"Muqaddimah Qanun Asasi"_ menegaskan:
_"Maka kemarilah kalian semua, masuklah ke dalam perkumpulan ini (Nahdlatul Ulama) dengan kasih sayang, persatuan, kerukunan, dan persekutuan jiwa serta raga... Ini adalah perhimpunan yang adil dan jujur."_
Pesan Qanun Asasi tersebut berkelindan secara simetris dengan imperatif *Ojo Disrimpeti*. Membantu PBNU semampu kita—baik dengan kepakaran intelektual, modal finansial, maupun doa spiritual—merupakan kewajiban kewargaan (_citizenship duty_) setiap Nahdliyin. Sebaliknya, mengganggu jalannya kepemimpinan PBNU dengan narasi destruktif adalah pengkhianatan terhadap cita-cita luhur para pendiri bangsa dan Muasis NU.
Re-aktualisasi nilai-nilai Muasis di bawah kepemimpinan Gus Kikin harus diwujudkan dalam program-program riil berikut:
* *Kemandirian Ekonomi Jama'ah:* Mengembangkan jaringan koperasi simpan pinjam berbasis syariah, pengelolaan dana zakat, infak, sedekah (ZIS) yang modern melalui LAZISNU, serta pembentukan Badan Usaha Milik NU (BUMN-U).
* *Diplomasi Islam Inklusif Global:* Melanjutkan estafet kepemimpinan _Islam Wasathiyah_ di tingkat internasional melalui platform R20 (_G20 Religious Forum_) dan konferensi ulama internasional guna menyuarakan perdamaian dunia.
* *Perlindungan Lingkungan dan Keadilan Ekologis:* Menerjemahkan _Fiqih Biah_ (Fiqih Lingkungan) ke dalam advokasi konkret untuk membela hak-hak masyarakat adat dan petani dari ancaman pengerusakan lingkungan.
Manifestasi Masa Depan PBNU
_Olah Batin_ atau _Spiritual exercise_ yang dilangsungkan di Makam Hadratusyaih Hasyim Asy'ari bukan sekadar ritual simbolis, melainkan sebuah ikrar kosmik. Suara gemuruh shalawat ribuan santri Tebuireng adalah sublimasi dari harapan jutaan warga Nahdliyin yang merindukan PBNU yang kuat, mandiri, bermartabat, dan adil.
*Ojo Disrimpeti* adalah perwujudan dari ketaatan organisatoris (_sami'na wa atha'na_) yang rasional dan kritis. Jika seluruh elemen Dzurriyah, alumni pesantren, badan otonom, dan lembaga di bawah naungan PBNU menyatukan langkah tanpa ada yang memagut kaki kepemimpinan dari belakang, maka Nahdlatul Ulama tidak hanya akan menjadi pemandu spiritual bangsa Indonesia, tetapi juga kompas peradaban bagi dunia Islam secara keseluruhan.
Langkah telah diayunkan. Amanah telah berpindah. Di atas tanah Tebuireng yang harum oleh doa para wali, komitmen itu dimeteraikan: *Bantu PBNU semampu kita, jaga kehormatannya, dan jangan pernah disrimpeti.
oleh: Gus Nas Jogja.(Red)

Tidak ada komentar