MUKTAMAR NU DAN TIMSES KESIANGAN
Saranapos.com, Muktamar Nahdlatul Ulama selalu punya cara unik untuk menghibur bangsa. Di saat partai politik harus menyewa _consultant agency_ berbiaya miliaran rupiah demi merekayasa pencitraan, warga Nahdliyin cukup berbekal sarung, peci miring, dan candaan yang meruntuhkan ego. Dalam kacamata filsafat humor, NU adalah entitas langka: sebuah organisasi massa terbesar yang berhasil mengawinkan tradisi intelektual tingkat tinggi dengan mekanisme pertahanan psikologis paling sublim, yaitu kelucuan. Namun, panggung Muktamar tak cuma menghadirkan kedalaman spiritual dan tradisi bahtsul masail, melainkan juga fenomena sosiologis yang sangat menggelitik: lahirnya para *"Timses Kesiangan".*
Fenomena Timses Kesiangan ini adalah komedi manusiawi yang paling pas dibedah menggunakan _"Incongruity Theory"_ (Teori Ketidakselarasan) milik Arthur Schopenhauer. Humor lahir ketika ada jarak yang amat lebar antara realitas objektif dengan klaim subjektif seseorang. Bayangkan sebuah hajatan akbar seperti Muktamar yang persiapannya memakan waktu berbulan-bulan, melibatkan ribuan panitia yang kurang tidur, kiai-kiai senior yang beristirahat sambil berzikir, hingga santri-santri yang menggeledah dapur umum demi mematikan lapar. Tiba-tiba, begitu hajatan usai dan dinamika politik berjalan mulus, muncul sesosok manusia berpakaian necis mendadak menggelar konferensi pers. Tanpa canggung, ia mendeklarasikan diri: _"Sebenarnya, krisis kemarin selesai karena saya bergerak sebagai Pahlawan di Belakang Layar."_
Ketidakselarasan inilah yang memantik tawa sekaligus keheranan. Wajahnya berseri-seri di depan kamera, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar berat dan misterius—mirip agen intelijen yang lupa menutup resleting celana. Padahal, sepanjang proses Muktamar berlangsung, jangankan berkeringat mengurus akomodasi, batang hidungnya pun tak pernah terlihat di area pendaftaran. Kehadirannya yang tiba-tiba di depan mikrofon persis seperti pahlawan kesiangan yang datang ketika penjahatnya sudah dikubur lengkap dengan acara selamatan tujuh harian.
Secara filsafat humor, karakter seperti ini menguatkan _"Superiority Theory"_ ala Thomas Hobbes. Kita tertawa bukan sekadar karena ucapannya absurd, tetapi karena merasa bersyukur kita tidak memiliki tingkat percaya diri yang kelewat batas hingga menembus lapisan stratosfer seperti dia. Kelakuan sang Timses Kesiangan mirip sekali dengan cerita anekdot klasik Nahdliyin yang tak pernah lekang oleh zaman.
Alkisah, dalam sebuah hajatan Muktamar yang berlangsung panas, terjadi kebuntuan (_deadlock_) alot hingga larut malam. Para kiai sepuh bersidang di kamar tertutup, sementara ribuan santri menanti dengan cemas di luar gedung. Di pojok pelataran, Kang Santri yang bertugas menjaga konsumsi terlihat ketiduran di atas tumpukan karung beras. Ia terbangun pukul tiga pagi karena kaget mendengar suara gemuruh tepuk tangan dari dalam gedung—tanda bahwa kesepakatan damai akhirnya tercapai.
Dengan mata masih sepet dan bekas gigitan nyamuk di pipi, Kang Santri itu mendadak mengusap wajahnya, berdiri tegak, lalu berbisik penuh kemenangan kepada teman di sebelahnya, _"Alhamdulillah... diplomasi batin yang saya rapalkan dari atas karung beras ini akhirnya menembus langit."_
Siang harinya, ketika wartawan berkumpul, Kang Santri tadi sudah mengganti sarungnya dengan celana kain licin, memakai kacamata hitam, dan menyenggol lengan pembawa acara untuk meminta waktu press conference. Di hadapan puluhan kamera, ia berdeham dengan nada karismatik, _"Teman-teman media, di balik layar diplomasi semalam, ada energi tak terlihat yang menjaga stabilitas Muktamar. Saya sengaja tidak mau tampil di depan demi menjaga kerahasiaan strategi..."_ Para wartawan saling pandang, bingung membedakan mana negosiator ulung dan mana orang yang baru bangun tidur tapi lupa membasuh muka.
Eksistensi akun-akun satir seperti NU Garis Lucu menjadi penawar paling ampuh untuk menghadapi kelakuan para Pahlawan Belakang Layar yang bermuka tebal ini. NU Garis Lucu paham betul bahwa cara terbaik merespons keangkuhan politis bukanlah dengan kemarahan, melainkan dengan dekonstruksi humor. *Ketika sang Timses Kesiangan membusungkan dada di media massa mengklaim segala kebaikan Muktamar adalah buah karyanya, kultur humor NU cukup menanggaminya dengan satu kalimat santun namun menohok: _"Enggeh, Kang... ngetiknya sambil duduk aja, ntar sarungnya melorot."_*
Humor ala NU Garis Lucu bekerja menggunakan _"Relief Theory"_ dari Sigmund Freud. Humor dijadikan alat untuk melepaskan ketegangan politik dan meruntuhkan klaim-klaim keberhasilan egosentris. *Saat sang aktor politik sibuk merekayasa citra sebagai konseptor jenius di balik layar, warga NU justru menertawakan betapa menyedihkannya seseorang yang begitu haus akan pengakuan.* Di panggung politik biasa, klaim seperti itu mungkin akan memicu debat kusir yang panjang dan meletihkan. *Namun di lingkungan Nahdliyin, klaim merasa paling berjasa hanya akan berakhir menjadi bahan kelakar di warung kopi dekat lokasi Muktamar, disandingkan dengan gorengan dingin dan teh manis hangat.*
Secara filosofis, fenomena Timses Kesiangan yang mendadak menggelar konferensi pers ini mencerminkan tragedi eksistensial manusia modern: *ketakutan akan ketidakberartian.* Pahlawan Belakang Layar yang asli justru adalah mereka yang sibuk membersihkan sampah di arena Muktamar, menyeduh kopi untuk para kiai, atau mengurai kemacetan lalu lintas di luar gedung tanpa pernah tersentuh sorot kamera. Mereka hadir dalam kesenyapan karena paham bahwa pengabdian tidak membutuhkan stempel mikrofon. Sebaliknya, Timses Kesiangan membutuhkan konferensi pers untuk membuktikan bahwa dirinya ada. Tanpa lampu kilat kamera dan pertanyaan wartawan, eksistensinya menguap begitu saja seperti uap kopi di pagi hari.
Muktamar NU pada akhirnya selalu berhasil menjaga kesuciannya bukan karena steril dari para pemburu panggung, melainkan karena memiliki sistem imunitas kebudayaan berupa humor. Seganas apa pun manuver politik yang dimainkan, dan sebanyak apa pun pahlawan kesiangan yang mendadak mengaku sebagai penyelamat di belakang layar, semuanya akan terlarut dalam tawa riang warga Nahdliyin.
Sebab pada akhirnya, di balik setiap peristiwa besar NU, selalu ada dua tipe manusia yang berdiri di belakangan layar: mereka yang berdo'a dan bekerja dalam diam, serta mereka yang baru bangun tidur, mengusap belek, lalu tergesa-gesa mencari wartawan demi mengklaim bahwa matahari terbit karena kebaikan hati mereka. Dan terhadap tipe yang kedua ini, NU Garis Lucu dan seluruh Nahdliyin cukup tersenyum sambil berkata: _"Nggih, Sampeyan pancen luar biasa... tapi tolong mikrofonnya dikembalikan, mau dipakai buat pengumuman dompet hilang."
oleh: Gus Nas Jogja.(Red)
.jpg)
Tidak ada komentar