Breaking News

MENGGUGAT KEKUASAAN DENGAN ADAB HADRATUSYAIKH


Saranapos.com, Jika kita cermati dan renungkan secara kontemplatif-spiritual, hari ini kita sedang berdiri di tubir jurang peradaban, di mana politik telah bermutasi menjadi _algoritma predator_ yang memangsa martabat manusia. Di era disrupsi ini, kekuasaan sering kali hanyalah sebuah _simulakra_—panggung sandiwara yang bising oleh kepentingan sesaat, namun sunyi dari substansi ketuhanan. Begitu pun dalam tubuh Nahdlatul Ulama, ormas keagamaan terbesar di Indonesia yang berbasis di pedesaan. Namun, di tengah badai pragmatisme yang gersang, lamat-lamat terdengar gema dari masa lalu yang visioner, sebuah suara dari Jombang yang menembus sekat waktu: *Hadratusyalkh KH Hasyim Asy’ari.*


Beliau tidak mewariskan NU sebagai mesin suara yang robotik, melainkan sebagai sebuah _"Sistem Navigasi Samawi"_ untuk mengarungi samudera kebangsaan. Ini bukan sekadar tentang memenangkan kursi, ini tentang memenangkan kemanusiaan. Politik NU adalah sebuah politik kebangsaan yang saya sebut Futurisme Tradisional—sebuah lompatan kuantum di mana nilai-negara dan nilai-agama berpelukan dalam satu tarikan napas adab. Mari kita bedah kembali "Genetik Politik" ini, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kompas untuk merebut kembali masa depan yang bermartabat.


Ontologi Kekuasaan: Eksistensi Jabatan sebagai Bayang-Bayang Fana


Secara filosofis, Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy'ari membedah akar kekuasaan bukan dari kacamata Machiavellian yang haus dominasi, melainkan dari kedalaman _Tauhidul-Uluhiyyah_. Dalam *Qanun Asasi,* beliau menegaskan bahwa struktur organisasi (dan secara ekstrinsik, kekuasaan politik) hanyalah _wasilah_ (sarana), bukan _ghayah_ (tujuan). Politik NU adalah politik yang memiliki "berat jenis" spiritual; ia tidak mengambang di atas kepentingan pribadi, melainkan menghujam ke dalam kesadaran bahwa seluruh jagat raya ini berada dalam genggaman Sang Maha Raja.


Setiap kursi jabatan dalam kacamata Hadratusyaikh adalah sebuah "sajadah ujian". Beliau memandang jabatan politik bukan sebagai mahkota yang mempercantik kepala, melainkan sebagai beban berat yang menuntut pertanggungjawaban di mahkamah sejarah dan pengadilan keabadian. Dalam *Qanun Asasi,* ditekankan bahwa perpecahan adalah sumber kehancuran. Maka, ontologi politik NU adalah Politik Penyatuan. Kekuasaan yang digunakan untuk memecah belah adalah kekuasaan yang telah kehilangan ruh ke-Islamannya. Di sini, politik bertransformasi dari sekadar perebutan otoritas menjadi sebuah liturgi menjaga harmoni kosmis. Pemimpin tidak boleh merasa memiliki kekuasaan; ia hanya sedang "dipinjami" oleh rakyat dan Tuhan untuk sementara waktu.


Kutipan *Qanun Asasi:*

_"Persatuan, ikatan hati satu sama lain, saling bantu-membantu dan kesatuan arah merupakan sumber kekuatan, kunci keberhasilan dan asas dari sebuah kemuliaan."_


Epistemologi Adab: Transformasi Politisi Menjadi Muta’allim Sejati


Bagaimana seorang politisi mengambil keputusan? Hadratusyaikh melalui kitab *Adabul ‘Alim wal Muta’allim* memberikan jawaban yang radikal: seorang pemimpin adalah seorang murid abadi. Epistemologi politik NU berakar pada kesucian niat dan ketajaman intelektual. Politik tanpa basis ilmu adalah buta, dan ilmu tanpa adab adalah racun.


Dalam sub-bab ini, kita melihat bagaimana Hadratusyaikh menuntut para pemegang otoritas untuk memiliki kejernihan batin sebelum merumuskan kebijakan publik. Seorang politisi santri harus melakukan _tazkiyatun nafs_ (penyucian jiwa) agar tidak terjebak dalam bias kognitif yang egois. Dalam narasi antropologis, politisi NU diposisikan sebagai figur yang memiliki "Telinga Makrifat"—ia lebih banyak mendengar rintihan kaum _mustadh’afin_ daripada mendengar bisikan para pemodal. Adab dalam berpolitik berarti menghargai proses dialektika, menghormati lawan politik sebagai mitra dalam mencari kebenaran, dan tidak pernah merasa jemawa dengan pendapat pribadi. Ini adalah politik yang rendah hati, sebuah politik yang lahir dari rahim pesantren di mana kehormatan guru dan ilmu lebih tinggi daripada jabatan formal.


Sosiologi Ukhuwah: Menenun Rajutan Sosial yang Tak Terkoyak


Dalam *Qanun Asasi,* Hadratusyaikh merumuskan sosiologi politik yang berbasis pada kasih sayang universal (_al-rahmah al-alamiyyah_). Beliau melihat bangsa Indonesia sebagai sebuah organisme hidup di mana setiap kelompok adalah organ yang saling bergantung. Politik NU adalah politik Interdependensi, bukan politik isolasi.


Secara sosiologis, Hadratusyaikh mengajarkan bahwa stabilitas sebuah negara bergantung pada seberapa kuat adab yang dipegang oleh para pemimpinnya dalam menjaga kerukunan. Beliau sangat mengutuk praktik _namimah_ (adu domba) politik. Dalam narasi puitis, beliau menggambarkan umat yang bersatu bagaikan benteng baja yang tak tertembus, sementara umat yang berpecah belah bagaikan buih di lautan yang mudah dipermainkan gelombang kepentingan asing. Adab berpolitik berarti menjaga lisan dari fitnah dan menjaga tangan dari tindakan destruktif. Ini adalah sosiologi tingkat tinggi di mana persaudaraan (_ukhuwwah_) diletakkan di atas kepentingan elektoral. Politik bukan medan perang untuk saling mematikan, melainkan taman untuk saling mendewasakan.


Antropologi Khidmah: Pembalikan Logika Tuan dan Pelayan


Inilah titik paling revolusioner dalam pemikiran Hadratusyaikh. Beliau mengubah definisi "Pemimpin" dalam kamus politik. Secara antropologis, identitas pemimpin dalam NU adalah *Khadimul Ummah* (Pelayan Umat). Ini adalah antitesis dari feodalisme politik yang sering kali menjangkiti struktur kekuasaan modern.


Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy'ari dalam berbagai risalahnya menekankan bahwa *"Sayyidul Qaumi Khadimuhum"* (Pemimpin sebuah kaum adalah pelayan bagi mereka). Adab berpolitik dalam konteks ini adalah kesiapan untuk menderita demi rakyat. Secara sosiologis-antropologis, kita melihat bagaimana kiai-kiai NU tempo dulu lebih memilih hidup bersahaja agar tetap selaras dengan denyut nadi masyarakat kelas bawah. Politik khidmah adalah politik yang "berkaki tanah"—ia tidak takut kotor masuk ke sawah, tidak malu duduk di lantai bersama fakir miskin, namun memiliki pikiran yang menembus cakrawala. Inilah adab yang menjadikan NU tetap kokoh selama satu abad: karena akarnya tidak tertanam di gedung-gedung tinggi, melainkan di hati rakyat yang merasa dilayani dengan tulus.


Metafisika Tasawuf: Politik sebagai Jalan Ma’rifatullah


Pada lapisan yang paling esoteris, politik bagi Hadratusyaikh adalah sebuah jalan menuju Tuhan (_Thariqah ilallah_). Tasawuf politik NU adalah sebuah praktik spiritual di mana setiap kebijakan publik dinilai sebagai ibadah. Tidak ada dikotomi antara yang sakral dan yang profan; meja perundingan politik adalah juga "meja dzikir".


Dalam perspektif tasawuf, seorang politisi harus memiliki _wara’_ (kehati-hatian) dalam menyentuh harta negara dan _zuhud_ (tidak terikat hati) pada kemilau jabatan. Hadratusyaikh mengajarkan bahwa adab berpolitik tertinggi adalah ketika seorang hamba mampu melihat "Wajah Tuhan" di balik wajah-wajah rakyat yang ia pimpin. Kebijakan yang adil adalah manifestasi dari sifat _Al-’Adl_ Tuhan, dan kasih sayang kepada rakyat adalah pantulan dari sifat _Al-Rahman._ Politik tasawuf melahirkan ketenangan di tengah huru-hara. Ia tidak ambisius mengejar kedudukan, namun jika mandat itu jatuh ke pundaknya, ia melaksanakannya dengan gemetar karena takut akan hisab di akhirat. Inilah puncak dari peradaban politik: ketika spiritualitas menjadi ruh bagi setiap tarikan napas birokrasi.


Menagih Janji Adab bagi Masa Depan Bangsa


Adab berpolitik yang diwariskan Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar kumpulan teks usang di atas rak perpustakaan. Ia adalah "Energi Masa Depan" yang mampu menyelamatkan kita dari kehampaan moral politik modern. *Qanun Asasi dan Adabul ‘Alim* adalah dua sayap yang memungkinkan NU terbang tinggi namun tetap mampu mendarat dengan lembut di pelukan rakyat.


Jika kita ingin melihat Indonesia yang futuristik, kita tidak hanya butuh teknologi, kita butuh Restorasi Adab. Kita butuh pemimpin yang berpolitik dengan hati seorang sufi, otak seorang ilmuwan, dan raga seorang pelayan. Biarlah narasi politik kita kembali menjadi puisi yang agung—yang setiap barisnya adalah pengabdian, dan setiap maknanya adalah keridhaan Ilahi.


_"Kekuasaan tanpa adab adalah kegelapan yang menelan cahaya, namun politik dengan adab adalah fajar yang menyingsing untuk menyinari seluruh alam semesta."_


Geopolitik Rahmat: Diplomasi Universal dalam Bingkai Qanun Asasi


Dalam spektrum yang lebih luas, Hadratusyaikh tidak hanya memandang NU sebagai entitas domestik, melainkan sebagai pemain kunci dalam Geopolitik Rahmat. Secara sosiologis-antropologis, beliau meletakkan dasar bahwa adab berpolitik harus melintasi batas-batas teritorial. Politik NU adalah politik kemanusiaan yang bersifat semesta (_rahmatan lil 'alamin_).


Dalam *Qanun Asasi,* ditekankan bahwa persaudaraan tidak hanya terbatas pada lingkaran santri, tetapi mencakup persaudaraan kemanusiaan (_ukhuwwah basyariyah_). Secara futuristik, ini adalah embrio dari diplomasi perdamaian dunia. Adab berpolitik dalam konteks geopolitik berarti menolak segala bentuk penindasan (imperialisme) dan menjadi penengah di tengah konflik global. Hadratusyaikh mengajarkan bahwa kekuatan diplomasi tidak terletak pada militerisme, melainkan pada Wibawa Moral. Pemimpin NU diharapkan mampu menjadi "kompas etis" bagi dunia yang sedang kehilangan arah. Narasi ini menajamkan bahwa adab adalah bahasa universal yang mampu menembus tembok-tembok ideologi yang kaku, menjadikannya instrumen diplomasi yang paling mematikan bagi kebatilan namun paling lembut bagi perdamaian.


Ekonomi Politik Berbasis Adab: Melawan Monopoli dengan Keadilan


Hadratusyaikh melalui pemikirannya tentang kemandirian umat, mengisyaratkan bahwa politik tidak bisa dipisahkan dari kedaulatan ekonomi. Adab berpolitik dalam bidang ekonomi berarti melawan keserakahan (tamak) dan monopoli yang menyengsarakan rakyat. Secara sosiologis, ini adalah landasan bagi Ekonomi Kerakyatan yang luhur.


Berdasarkan prinsip *Adabul 'Alim*, seorang pemimpin ekonomi atau politisi yang mengurusi hajat hidup orang banyak harus memiliki sifat _wara’_ (kehati-hatian) yang ekstrem terhadap harta publik. Hadratusyalkh memandang bahwa kemiskinan sering kali merupakan hasil dari politik ekonomi yang tuna-adab. Deskripsi ini memperluas mandat NU untuk tidak hanya berpolitik secara praktis, tetapi juga melakukan intervensi kebijakan yang berpihak pada kaum papa (_mustadh'afin_). Adab ekonomi berarti memastikan bahwa kekayaan tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja. Ini adalah politik redistribusi yang puitis; di mana aliran kapital diibaratkan seperti air hujan yang harus membasahi setiap jengkal tanah, bukan hanya berkumpul di lembah para penguasa lahan.


Liturgi Pengambilan Keputusan: Syura sebagai Ruang Penjemputan Takdir


Bagaimana kebijakan lahir dari rahim NU? Hadratusyalkh menekankan pentingnya Syura (_musyawarah_) yang dibalut dengan adab ketasawufan. Ini bukan sekadar mekanisme pemungutan suara (_voting_) yang dingin, melainkan sebuah proses transendental untuk menjemput petunjuk Ilahi.


Dalam struktur NU, proses pengambilan keputusan adalah sebuah upacara spiritual. Di sini, epistemologi berpadu dengan tasawuf. Para ulama berkumpul bukan untuk saling mengalahkan argumentasi, melainkan untuk saling merendahkan hati mencari maslahat. Adab dalam syura menuntut pesertanya untuk membuang jauh-jauh ego sektoral. Hadratusyaikh mengingatkan bahwa keputusan yang diambil dengan hawa nafsu akan melahirkan kerugian, sementara keputusan yang diambil dengan adab dan istikharah akan membawa barakah. Secara futuristik, pola ini adalah antitesis dari demokrasi liberal yang sering kali terjebak dalam tirani mayoritas. Syura dalam NU adalah demokrasi yang "bernyawa", di mana setiap suara dihargai sebagai bagian dari simfoni kehendak Tuhan demi keselamatan umat.


Menuju Satu Abad Kedua—Khittah Spiritualitas sebagai Energi Baru


Melengkapi oratorio ini, kita harus menyadari bahwa warisan Hadratusyalkh bukan untuk dikultuskan secara pasif, melainkan untuk diaktivasi secara progresif. Adab berpolitik dalam NU adalah sebuah Teknologi Ruhani yang takkan usang oleh kecerdasan buatan (AI) sekalipun, karena ia memiliki satu unsur yang tak bisa ditiru: Ikhlas.


Kita tidak sedang kembali ke masa lalu; kita sedang membawa nilai-nilai abadi masa lalu untuk menyelamatkan masa depan. *Qanun Asasi* adalah konstitusi langit bagi mereka yang ingin membumikan keadilan. *Adabul 'Alim* adalah manual bagi para teknokrat yang ingin bekerja dengan hati. Jika NU mampu menjaga konsistensi adab ini, maka ia akan tetap menjadi "Paku Bumi" bagi Indonesia. Politik kita tidak boleh berhenti pada angka-angka survei, ia harus berakhir pada senyuman rakyat dan keridhaan Allah.


_"Kemenangan politik yang sejati bukanlah saat bendera dikibarkan di puncak kekuasaan, melainkan saat adab tegak berdiri di tengah kehancuran moral dunia."_


Teologi Lingkungan dalam Politik NU: Mandat Khalifah di Atas Sajadah Bumi


Dalam memperluas risalah Hadratusyaikh, adab berpolitik NU mencakup relasi antara manusia dan alam semesta. Secara antropologis, politik NU adalah politik Ekoteologi. Hadratusyalkh, dalam berbagai laku hidupnya di pesantren yang agraris, mengajarkan bahwa menjaga kelestarian bumi adalah bagian integral dari iman. Politik tidak boleh hanya berhenti pada urusan birokrasi, tetapi harus menyentuh kebijakan konservasi.


Berdasarkan prinsip *Qanun Asasi* tentang saling tolong-menolong (_ta’awun_), adab berpolitik berarti menolong alam dari kerusakan (_fasad_). Seorang politisi santri memandang sungai, hutan, dan tanah bukan sebagai komoditas yang bisa diperas habis demi pertumbuhan ekonomi yang rakus, melainkan sebagai titipan Ilahi. Secara sosiologis, kebijakan politik NU harus berpihak pada keberlanjutan hidup generasi mendatang. Mengambil inspirasi dari tasawuf, ini adalah bentuk zuhud kolektif—mengambil dari alam secukupnya dan memeliharanya sebaik-baiknya. Politik lingkungan adalah politik "Adab terhadap Makhluk", di mana seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada konstituen manusia, tetapi juga kepada ekosistem yang menopang kehidupan.


Estetika Komunikasi Politik: Bahasa Santun di Tengah Kegaduhan


Bagaimana seorang kader NU berbicara di ruang publik? Hadratusyaikh Hasyim Asy'ari dalam *Adabul 'Alim wal Muta'allim* menekankan pentingnya menjaga lisan dan menggunakan bahasa yang mulia (_qaulan karima_). Secara psikologis, komunikasi politik NU adalah komunikasi yang menyejukkan (_tabsyir_), bukan menakut-nakuti (_tanfir_).


Di era media sosial yang penuh dengan cacian dan polarisasi, adab komunikasi politik NU menjadi oase yang futuristik berbasis adab. Politisi NU dilatih untuk tidak terjebak dalam retorika kebencian, meskipun sedang dalam kompetisi yang sengit. Narasi deskriptif ini menajamkan bahwa kata-kata adalah "doa politik". Setiap argumen harus disampaikan dengan argumentasi yang kuat (_hujjah_) namun dibalut dengan kelembutan (_rifq_). Ini bukan pertanda kelemahan, melainkan simbol kekuatan batin yang stabil. Hadratusyalkh mencontohkan bahwa kebenaran tetap bisa ditegakkan tanpa harus merendahkan martabat orang lain. Inilah estetika politik santri: sebuah oratorio kata yang memikat hati tanpa harus melukai harga diri.


Menjemput "Kemenangan yang Diberkati"


Pada analisis terakhir, lensa esai ini menyentuh aspek eskatologis dalam politik NU. Hadratusyalkh memandang sejarah bukan sebagai rangkaian peristiwa acak, melainkan sebagai skenario besar Tuhan. Politik adalah cara manusia mengambil peran dalam skenario tersebut guna mencapai _Sa’adatun Darain_ (kebahagiaan di dua negeri: dunia dan akhirat).


Politik dalam nafas NU tidak mengenal putus asa, karena orientasinya melampaui kemenangan statistik elektoral dan kursi kekuasaan. Secara filosofis-tasawuf, jika sebuah perjuangan politik yang dilakukan dengan adab belum membuahkan kemenangan suara, ia tetap dianggap menang di mata Tuhan karena kejujuran prosesnya. Namun, jika kemenangan diraih dengan menanggalkan adab, itu dianggap sebagai kekalahan hakiki. Hadratusyalkh menanamkan keyakinan bahwa "Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri" (_Al-haqqu ya'lu wala yu'la 'alaih_). Dengan memegang teguh Qanun Asasi, kader NU diajak untuk menjadi "Aktor Cahaya" yang tidak takut pada kegelapan zaman, karena mereka membawa obor adab yang dinyalakan langsung dari nur kenabian.


Menjaga Adab di Atas Panggung Sejarah


Inilah jalan panjang adab berpolitik dalam NU. Sebuah perjalanan yang dimulai dari bilik pesantren, melintasi meja birokrasi, dan berakhir pada keheningan syukur di hadapan Ilahi. Kita tidak sedang mencari kekuasaan untuk menguasai, kita mencari kekuasaan untuk membebaskan manusia dari kegelapan kebodohan dan ketidakadilan.


Hadratusyalkh Hasyim Asy’ari telah menuliskan garis besarnya; tugas kita adalah menghidupkan setiap hurufnya dalam tindakan nyata. Biarlah politik kita menjadi Legasi Cahaya—sebuah warisan yang kelak akan dibaca oleh anak cucu kita sebagai sebuah bab dalam sejarah Nusantara di mana adab dan kekuasaan pernah berdansa dengan begitu indah, puitis, dan penuh keberkahan.


_"Jangan kau tanyakan di mana NU berada, tanyakanlah apakah adab Hadratusyalkh masih berdenyut dalam nadi politikmu. Sebab jika adab itu hilang, NU hanyalah nama tanpa jiwa, namun jika adab itu tegak, NU adalah nafas bagi semesta."

oleh: Gus Nas Jogja.(Red)

Tidak ada komentar