LESBUMI DALAM DIALEKTIKA SEJARAH DAN TURBULENSI BUDAYA
Saranapos.com, Seni sebagai Amuk Eksistensial dan Kitab Pemberontakan
Kebudayaan tidak pernah dilahirkan dari rahim kenyamanan yang pasif; ia adalah bayi yang lahir telanjang dari rahim badai, sebuah amuk eksistensial manusia yang menolak diredam oleh jeruji zamannya. Ketika sejarah Indonesia memasuki dekade 1960-an, ruang kebudayaan berubah menjadi kawah candradimuka yang mendidih—sebuah teater anarki di mana kata-kata diasah menjadi belati dan kanvas direntang menjadi bendera perang ideologis. Di tengah lanskap yang koyak oleh polarisasi ekstrem itulah, tepat pada 28 Maret 1962, sebuah manifesto kultural bernama Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) diledakkan.
Ia tidak lahir sebagai sekadar ornamen birokrasi atau lembaga pelat merah yang berlindung di bawah payung besar Nahdlatul Ulama (NU). LESBUMI adalah sebuah interupsi estetis yang berani. Didirikan oleh "Tiga Serangkai" begawan— *Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani* —lembaga ini adalah proklamasi kaum jaba yang menolak didikte oleh diktatorisme estetika tertentu. Mereka memandang seni bukan sebagai kosmetik peradaban yang tunduk pada pasar atau penguasa, melainkan sebagai sebuah ritus pemberontakan transendental. Asrul Sani pernah berujar dengan nada yang menghentak nurani:
_"Seni yang tidak berani gelisah, seni yang tidak berani menggugat dan membedah borok kemanusiaan, hanyalah bangkai estetika yang dibalsem oleh ketakutan."_
Maka, LESBUMI adalah sebuah perang suci (jihad kultural) untuk merebut kembali jiwa manusia Indonesia yang sedang terseret dalam turbulensi budaya, sebuah upaya radikal untuk menyatukan kembali serpihan daging profan yang tercerai-berai dengan ruh transendensi yang kekal.
Dialektika Hegemoni: Perang Semiotik Menghadapi Reduksionisme Kiri
Untuk menelanjangi kedalaman filosofis LESBUMI, kita harus melemparkan ingatan pada sebuah medan pertempuran semiotik yang amat kolosal di masa itu. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) telah berhasil menancapkan taring hegemoninya dengan agung sekaligus mengerikan. Mengunyah mentah-mentah doktrin materialisme-historis dan realisme sosialis, Lekra mengumandangkan jargon “Seni untuk Rakyat” sebagai titah absolut. Di bawah rezim estetika ini, seni mengalami amputasi ontologis: ia direduksi, dipaksa bertekuk lutut menjadi sekadar pamflet politik, alat propaganda kelas, dan instrumen mobilisasi massa yang dingin. Segala bentuk keindahan yang meraba wilayah metafisika atau spiritualitas borjuis dicap sebagai kontra-revolusioner yang halal untuk dimusnahkan.
Di sinilah LESBUMI mengambil posisi sebagai sebuah antitesis yang tegak menantang badai. Menggunakan pisau analisa dialektika, LESBUMI melihat bahwa Lekra telah menjatuhkan manusia ke dalam lumpur materialisme vulgar yang menafikan kedalaman jiwa. Namun, LESBUMI juga menolak terjebak pada kutub ekstrem lainnya—yaitu idealisme murni borjuis yang asyik sendiri dalam menara gading keindahan semu tanpa memedulikan penderitaan rakyat jelata.
LESBUMI melakukan lompatan sintesis yang jenius: seni harus terlibat penuh dalam lumpur realitas sosial-politik nasional yang membumi, namun mata batinnya harus tetap menatap konstelasi bintang di langit ketuhanan atau langit transendensi. Djamaluddin Malik, dengan visi kepemimpinannya yang tajam dan taktis, menegaskan visi perlawanan ini:
_"Kita tidak boleh membiarkan kebudayaan kita roboh oleh badai yang mencerabut akar ketuhanan dari dada rakyat. Seni kita adalah seni yang berjuang di bumi, tetapi kiblatnya tetap tertuju ke langit."_
Ini bukan sekadar pertahanan budaya yang pasif, melainkan sebuah ofensif pemikiran yang membongkar klaim sepihak Lekra atas "rakyat", dengan menunjukkan bahwa rakyat Indonesia yang sejati adalah rakyat yang relung jiwanya berdenyut bersama Tuhan, bukan mesin-mesin produksi yang tanpa jiwa.
Humanisme Religius: Kosmologi Estetika Teosentris Tiga Serangkai
Ketajaman filosofis LESBUMI memancar dari formasi intelektual para arsiteknya. Usmar Ismail, sang perintis sinema nasional, bersama Asrul Sani, sang penyair dan dramawan ulung, bukanlah orang-orang yang asing dengan pemikiran Barat. Mereka mengunyah gagasan Humanisme Universal yang sempat menggema dalam Manifesto Kebudayaan. Akan tetapi, mereka menolak epigonisme yang buta. Di dalam rahim LESBUMI, humanisme sekuler ala Barat itu mengalami bedah ontologis dan pribumisasi yang radikal menjadi Humanisme Religius atau Humanisme Teosentris.
Bagi Tiga Serangkai, memuliakan manusia tidak harus dilakukan dengan cara membunuh Tuhan—sebagaimana yang digelorakan oleh eksistensialisme ateistik Eropa atau materialisme kiri. Sebaliknya, manusia justru menemukan martabat tertingginya ketika ia menyadari posisinya sebagai khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi. Estetika LESBUMI adalah estetika yang memandang wajah manusia sebagai cermin dari keindahan Ilahi (_tajalli_). Usmar Ismail, dalam sebuah perenungan mendalam tentang esensi medium sinema dan seni yang ia geluti, menyatakan:
_"Seni adalah ikhtiar untuk menangkap getaran rahasia kemanusiaan. Ketika kita menyorot kamera ke wajah seorang yang menderita, kita tidak hanya sedang merekam kemiskinan materialnya, tetapi kita sedang mengetuk pintu keadilan Tuhan yang bersemayam dalam hati setiap penonton."_
Oleh karena itu, seni yang islami menurut LESBUMI tidak pernah diukur dari seberapa verbal ayat-ayat agama dituliskan di atas kanvas atau seberapa sering simbol-simbol ritual diteriakkan dalam panggung teater. Seni yang religius adalah seni yang memiliki watak profetik: ia membela martabat manusia yang tertindas, menyuarakan kejujuran di hadapan tirani, dan merawat keindahan moral di tengah kebiadaban. Ketika turbulensi budaya meraba-raba dalam kegelapan alienasi modern, Humanisme Teosentris LESBUMI menawarkan cahaya kompas yang mengembalikan manusia pada fitrah kesuciannya.
Epistemologi Pribumisasi: Berdiri di Atas Kaidah Fikih Kultural
Bagaimana LESBUMI mengoperasikan pandangan dunianya (_worldview_) di tengah realitas kebudayaan Nusantara yang plural dan sarat tradisi? Jawabannya terletak pada kecerdasan epistemologis mereka dalam mengadopsi struktur berpikir hukum Islam (_fikih_) ke dalam wilayah kebudayaan. LESBUMI berdiri kokoh di atas tiang pancang kaidah legendaris: _Al-muhafadhatu ‘ala qadimi shalih wal akhdu bil jadidi al-aslah_—memelihara tradisi lama yang adiluhung, dan merangkul pembaruan yang lebih membawa kemaslahatan.
Formulasi filosofis ini menjadi pembatas yang tegas antara LESBUMI dengan kaum puritan-literalis yang kerap kali melempar vonis bid'ah atau haram pada ekspresi seni lokal seperti wayang kulit, reog, ketoprak, maupun nyanyian rakyat. LESBUMI tidak melihat tradisi lokal dengan tatapan curiga atau ketakutan teologis. Mereka melakukan pembacaan ontologis yang mendalam: tradisi adalah "tubuh kultural" yang membutuhkan "ruh spiritual" yang baru. Asrul Sani, dengan kelihaian transformatifnya, merumuskan metode ini secara puitis:
_"Kita tidak datang untuk menghancurkan rumah tradisi yang telah dibangun oleh leluhur kita dengan tetesan keringat keindahan. Kita datang untuk menyalakan lampu di dalam rumah itu, agar kegelapan sirna dan kebenaran memancar dari setiap sudut ukirannya."_
Dengan epistemologi pribumisasi ini, LESBUMI berhasil mentransformasikan seni tradisi menjadi mimbar-mimbar profetik yang sejati. Gamelan tidak lagi dipandang sekadar instrumen mistis, melainkan orkestrasi pujian atas keagungan kosmos; lakon wayang direvitalisasi menjadi alegori pergulatan manusia melawan hawa nafsu dan ketidakadilan. Melalui pendekatan ini, LESBUMI membuktikan bahwa iman tidak harus menghabisi kebudayaan lokal untuk bisa tegak berdiri, melainkan merangkulnya dalam sebuah tarian dialogis yang damai, mesra, dan mencerahkan.
Relevansi Kontemporer di Hadapan Monsteritas Zaman Baru
Waktu mungkin telah melarutkan dekade 1960-an ke dalam lipatan masa lalu, dan musuh-musuh ideologis masa itu telah lumat oleh perubahan sejarah. Namun, turbulensi budaya tidak pernah benar-benar reda; ia hanya bermutasi menjadi monster-monster baru yang jauh lebih samar dan berbahaya. Di abad ke-21 ini, kebudayaan manusia tidak lagi dikoyak oleh benturan senapan ideologi Perang Dingin, melainkan oleh banalitas digital, hiper-realitas yang mendangkalkan kesadaran, komodifikasi seni yang ekstrem di bawah dewa pasar, serta kebangkitan puritanisme agama gaya baru yang kering akan estetika dan gemar mengafkirkan kreativitas.
Dalam lanskap kekinian yang gersang dan terfragmentasi ini, warisan filosofis LESBUMI memancar kembali bagai mercusuar di tengah lautan kabut. Eksistensi historis mereka mengajarkan satu kebenaran mutlak yang melintasi zaman: bahwa seni, kebudayaan, dan spiritualitas bukanlah tiga entitas yang saling mengutuk dan menegasikan.
Menjadi modern dan progresif tidak menuntut kita untuk menjual jiwa pada kedangkalan sekuler; dan menjadi manusia yang beriman secara radikal tidak berarti kita harus menutup mata dari keindahan estetika duniawi. LESBUMI, melalui jejak langkah Tiga Serangkai yang populer dengan sebutan _"Tiga Menguak Takdir"_, tetap berdiri tegak dalam memori kolektif bangsa sebagai sebuah monumen pemikiran—sebuah bukti abadi bahwa di tangan para seniman yang berjiwa merdeka dan berhati suci, seni mampu menjelma menjadi jembatan emas yang menghubungkan jerit derita di bumi pertiwi dengan keheningan agung di langit transendensi.
Epistemologi Pribumisasi: Berdiri di Atas Kaidah Fikih Kultural
Pribumisasi Islam yang dijalankan oleh LESBUMI bukanlah sebuah proyek sinkretisme yang pragmatis atau sekadar taktik politik untuk merebut simpati massa akar rumput. Secara epistemologis, ini adalah sebuah pembacaan hermeneutis yang mendalam terhadap realitas teks keagamaan dan teks kebudayaan. Ketika Tiga Serangkai membawa seni tradisi ke dalam ruang-ruang diskusi teologis Nahdlatul Ulama, mereka sedang melakukan dekonstruksi terhadap cara pandang fikih yang kaku. Mereka menggeser paradigma dari fikih formalistik-legalistik menuju fikih kebudayaan (_fiqh al-tsaqafah_) yang elastis, inklusif, dan bervisi jangka panjang.
Asrul Sani, dengan ketajaman intelektualnya yang melintasi batas-batas tradisi dan modernitas, selalu menolak jika Islam diposisikan sebagai "algojo" bagi ekspresi lokal. Dalam salah satu esai kebudayaannya, ia melontarkan kegelisahan sekaligus keyakinan filosofisnya:
_"Islam yang masuk ke Nusantara tidak datang membawa pedang untuk menebang pohon-pohon kebudayaan yang telah rindang. Ia datang bagai angin musim semi yang meniupkan serbuk sari kebenaran pada putik-putik kesenian lokal, hingga melahirkan buah-buah peradaban baru yang rasanya manis dan akarnya menghunjam ke bumi tradisi."_
Melalui basis pemikiran ini, LESBUMI berhasil merumuskan konsepsi estetika yang tidak berjarak dengan rakyat. Ketika Lekra mengejek seni tradisi seperti ketoprak dan wayang sebagai sisa-sisa feodalisme yang harus direvolusi atau diganti dengan realisme sosialis, LESBUMI justru mengambil langkah sebaliknya. Mereka melihat di dalam ritus, ketukan gamelan, dan semiotika selendang tari terdapat _local genius_—sebuah kecerdasan lokal yang mengandung memori kolektif bangsa. Bagi LESBUMI, membuang tradisi demi modernitas (baik modernitas Barat maupun Timur) adalah bentuk bunuh diri kebudayaan.
Oleh karena itu, aksi kebudayaan LESBUMI adalah sebuah proses Islamisasi kultural yang subtil, sebuah metode di mana seni lokal tidak dihancurkan raganya, melainkan ditiupkan ruh tauhid ke dalam jantung estetikanya. Di bawah asuhan LESBUMI, panggung rakyat bukan lagi ruang hura-hura profan, melainkan sebuah ruang kontemplasi massal di mana batas antara penonton, seniman, dan Sang Pencipta melebur dalam keindahan yang transenden.
Ontologi Sinema dan Sastra: Membongkar Mitos Objektivitas Moderen
Bagi Usmar Ismail dan Asrul Sani, kamera film dan mesin tik bukanlah sekadar alat mekanis yang bebas nilai. Kedua medium moderen ini adalah perpanjangan tangan dari kesadaran ontologis sang seniman. Ketika Usmar Ismail mendirikan Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang kemudian menjadi mitra ideologis dan spiritual bagi LESBUMI, ia sedang melakukan dekolonisasi terhadap tatapan (the gaze) sinema yang selama ini dikuasai oleh modal asing dan estetika kolonial.
Usmar Ismail memandang bahwa sinema memiliki beban teologis sekaligus humanis. Kamera tidak boleh menjadi alat untuk membius kesadaran rakyat dengan ilusi-ilusi borjuis atau melodrama cengeng yang melenakan. Sinema harus menjadi saksi jujur atas realitas sosial. Dalam nota perenungannya yang legendaris, Usmar menulis:
_"Film bukanlah komoditas yang dijual untuk menukar tawa penonton dengan sekeping koin. Film adalah lembaran kitab suci visual yang merekam jejak-jejak Tuhan dalam pergulatan manusia. Ketika kita jujur menangkap realitas, kita sedang beribadah."_
Secara filosofis, ini adalah sebuah gugatan radikal terhadap mitos objektivitas moderen yang sekuler. Bagi Tiga Serangkai, tidak ada seni yang netral. Seni yang mengklaim dirinya "bebas nilai" (_art for art's sake_) sebenarnya sedang menghamba pada berhala pasar atau egoisme individualistik. Sementara seni yang mengabdi pada "realisme sosialis" telah bunuh diri dengan menjadi budak politik praktis.
LESBUMI memilih jalan ketiga: seni yang mengabdi pada kebenaran yang mutlak (_Al-Haqq_). Dalam sastra, Asrul Sani membongkar bahasa dari belenggu verbalisme yang kering. Ia membebaskan kata-kata agar mampu meraba wilayah misteri kemanusiaan yang paling kelam sekalipun. Bagi mereka, puisi, novel, dan skenario film adalah ruang-ruang eksperimen rohani. Melalui medium modern tersebut, LESBUMI membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual Islam dapat diekspresikan dengan bentuk-bentuk estetika mutakhir tanpa harus kehilangan daya dobrak puitisnya.
Waktu mungkin telah melarutkan dekade 1960-an ke dalam lipatan masa lalu, dan musuh-musuh ideologis masa itu telah lumat oleh perubahan sejarah. Namun, turbulensi budaya tidak pernah benar-benar reda; ia hanya bermutasi menjadi monster-monster baru yang jauh lebih samar, cair, dan berbahaya. Di abad ke-21 ini, kebudayaan manusia tidak lagi dikoyak oleh benturan senapan ideologi Perang Dingin, melainkan oleh banalitas digital, hiper-realitas yang mendangkalkan kesadaran, komodifikasi seni yang ekstrem di bawah dewa pasar, serta kebangkitan puritanisme agama gaya baru yang kering akan estetika dan gemar mengafkirkan kreativitas.
Hari ini, kita menyaksikan seni sering kali direduksi menjadi sekadar konten yang diburu oleh angka penayangan (_views_) dan algoritma kapitalistik. Di sisi lain, muncul gelombang konservatisme agama yang memandang seni dengan tatapan penuh curiga, mengharamkan musik, dan merubuhkan patung-patung tradisi atas nama kemurnian teologis. Manusia kontemporer terjebak di antara dua tebing ekstrem: kedangkalan sekuler yang tanpa jiwa, atau radikalisme agama yang tanpa rasa keindahan.
Dalam lanskap kekinian yang gersang dan terfragmentasi ini, warisan filosofis LESBUMI memancar kembali bagai mercusuar di tengah lautan kabut. Eksistensi historis mereka mengajarkan satu kebenaran mutlak yang melintasi zaman: bahwa seni, kebudayaan, dan spiritualitas bukanlah tiga entitas yang saling mengutuk dan menegasikan.
Menjadi modern dan progresif tidak menuntut kita untuk menjual jiwa pada kedangkalan sekuler; dan menjadi manusia yang beriman secara radikal tidak berarti kita harus menutup mata dari keindahan estetika duniawi. LESBUMI, melalui jejak langkah Tiga Serangkai, tetap berdiri tegak dalam memori kolektif bangsa sebagai sebuah monumen pemikiran—sebuah bukti abadi bahwa di tangan para seniman yang berjiwa merdeka dan berhati suci, seni mampu menjelma menjadi jembatan emas yang menghubungkan jerit derita di bumi pertiwi dengan keheningan agung di langit transendensi. Rasa keindahan adalah jalan setapak menuju Yang Maha Indah (_An-Nur_), dan LESBUMI telah mengukir jalan itu dengan tinta emas sejarah.
oleh: Gus Anas Jogja.(Red)

Tidak ada komentar