KETIKA NU DIHINAKAN, KIAI-KIAI DILECEHKAN DAN MUKTAMAR DIDELEGITIMASI, SIAPA YANG DIRUGIKAN?
Saranapos.com, Jika NU dihinakan, apalagi oleh orang dalam, maka bukan hanya Institusi NU sendiri yang dirugikan, melainkan Gerakan _Civil Society_, Islam Moderat, dan bangsa Indonesia yang santun. Orang lain yang bersorak sorai. Kondisi seperti ini dapat menghambat laju jalannya NU ke depan.
Oleh karena itu, *dalam menghadapi berbagai prasangka, tuduhan, maupun kekisruhan informasi, NU sebenarnya punya rujukan yang paling cerdas: Tabayun atau Klarifikasi.* Suatu jalan keilmuan dan keadaban untuk membedakan antara fakta objektif dengan prasangka buatan.
I. Pendahuluan: Gemuruh Gelombang di Samudra Digital
Di dalam ruang-ruang kehidupan modern saat ini, arus informasi mengalir begitu deras, membanjiri relung kesadaran kita setiap detik. Informasi tak lagi datang seperti rinai hujan yang menyejukkan, melainkan menjelma badai yang menerjang batas-batas nalar dan rasa. Dalam lanskap baru bernama ruang siber ini, mimbar-mimbar kebudayaan dan diskusi yang penuh kesantunan perlahan tergeser oleh riuk pertikaian kata-kata.
Di sinilah kita menyaksikan fenomena yang memprihatinkan: serangan, prasangka, serta narasi kebencian yang dialamatkan kepada Nahdlatul Ulama (NU). Serangan tersebut sering kali bukan lahir sebagai kritik keilmuan yang jujur atau dialog yang mencari kebenaran, melainkan diproduksi secara sistematis melalui manipulasi potongan video, pendengung terorganisasi, dan algoritma yang dirancang untuk memancing emosi.
Namun, di tengah gemuruh yang bising itu, kita perlu melangkah mundur sejenak. Kita perlu memandang persoalan ini bukan dengan amarah yang mendidih, melainkan dengan mata hati yang jernih. Kita harus bertanya secara mendalam: ketika sebuah payung besar kebudayaan dan keagamaan seperti NU dihantam badai fitnah, siapakah yang sesungguhnya paling terluka?
Sastrawan dan filsuf besar asal Pakistan, Allama Muhammad Iqbal, pernah menguntai bait indah tentang betapa rapuhnya sebuah peradaban ketika ia kehilangan ikatan jiwanya:
_"Masyarakat yang kehilangan kesantunan dan keterikatan pada akar tradisinya ibarat dedaunan gugur yang diterbangkan angin malam; ia melayang tanpa arah, lupa akan pohon yang dulu memberinya kehidupan."_
— Allama Muhammad Iqbal
II. Filsafat Hukum: Ketika Jiwa Bangsa (*Volksgeist*) Kehilangan Peneduh
Dalam kajian filsafat hukum klasik, Friedrich Karl von Savigny mengajarkan bahwa hukum sejati bukanlah sekadar jajaran pasal kaku yang ditulis di atas kertas oleh lembaga legislatif. Hukum yang hidup (_living law_) adalah manifestasi dari *Volksgeist*—jiwa, kesadaran kolektif, dan nilai-nilai luhur suatu bangsa yang tumbuh secara organik dari sejarah, tradisi, serta kebiasaan masyarakatnya.
Di bumi Nusantara, Nahdlatul Ulama selama satu abad telah bertindak sebagai salah satu penenun utama jiwa bangsa tersebut. Nilai-nilai moderasi keagamaan (_wasathiyah_), keluhuran budi, penghormatan terhadap tradisi lokal (_'urf_), serta kepasrahan yang inklusif merupakan fondasi tak tertulis yang menyangga bangunan hukum dan tata kehidupan berbangsa kita.
Ketika kita membedah masalah ini melalui pilar filsafat hukum Gustav Radbruch—yakni Keadilan (*Gerechtigkeit*), Kemanfaatan (*Zweckmäßigkeit*), dan Kepastian Hukum (*Rechtssicherheit*)—kita menemukan betapa bahayanya dampak dari propaganda digital yang merusak reputasi lembaga kebudayaan seperti NU:
1. *Erosi Keadilan (_Gerechtigkeit_):* Keadilan tersingkir ketika diskursus publik tak lagi berpijak pada kebenaran objektif, melainkan disetir oleh kehakiman emosional massa di media sosial.
2. *Kemerosotan Kemanfaatan (_Zweckmäßigkeit_):* Hukum dan norma kebiasaan kehilangan fungsinya sebagai perekat sosial. Ketika bahasa persaudaraan diganti menjadi bahasa permusuhan, hukum berubah menjadi instrumen benturan.
3. *Runtuhnya Kepastian Sosial (_Rechtssicherheit_):* Ketika narasi rekayasa algoritma dianggap lebih benar daripada fakta sejarah dan kedalaman sanad keilmuan, kepastian sosial masyarakat menjadi guncang. Masyarakat kehilangan pegangan moral.
Pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, dengan sangat tajam telah meramalkan betapa pentingnya menjaga ikatan persaudaraan dan tradisi hukum berbangsa ini. Dalam mahakaryanya, _"Adabul 'Alim wal Muta'allim"_, beliau mengingatkan:
_"Kesatuan dan saling mencintai adalah benteng utama keselamatan. Barangsiapa merobek kain persaudaraan itu demi memenuhi emosi dan prasangka, ia sedang meruntuhkan rumah yang melindungi dirinya sendiri."_
— Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari
III. Politik Kebudayaan: Komodifikasi Agama di Era Pasjakebenaran (_Post-Truth_)
Kita kini hidup di era post-truth, sebuah zaman ketika emosi dan keyakinan personal dianggap lebih menentukan daripada fakta yang sahih. Filsuf Prancis Jean Baudrillard menyebut fenomena ini sebagai _simulacra_—sebuah kondisi di mana tiruan dari realitas terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri.
Dalam arena digital yang penuh sesak, agama kerap kali mengalami proses komodifikasi yang menyedihkan. Kedalaman nilai-nilai keagamaan diekstraksi, dipotong-potong menjadi narasi singkat nan provokatif, lalu dijual demi mendulang jumlah tayangan (_views_), keterikatan (_engagement_), atau kepentingan politik sesaat.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara tradisi kultural NU dan arus kesalehan instan digital:
* *Pola Keilmuan:* Tradisi pesantren NU bertumpu pada sanad yang bersambung, tabayun, kajian kitab turas yang mendalam, dan kerendahan hati dalam berilmu. Sebaliknya, narasi pembenci bertumpu pada potongan kutipan tanpa konteks dan kebenaran instan.
* *Pola Interaksi:* NU merawat perjumpaan fisik, silaturahmi, kehangatan sowan kiai, dan musyawarah _bahtsul masail._ Sementara serangan digital mengandalkan anonimitas, akun bot, dan pembentukan ruang gema (_echo chamber_) yang memecah belah.
* *Tujuan Akhir:* NU berikhtiar menjaga kemaslahatan umum (_maslahah 'ammah_) dan harmoni sosial, sedangkan gempuran digital mengejar elektoral singkat dan polarisasi yang destruktif.
Tokoh intelektual dan Ulama Besar Mesir, Syaikh Ali Jum'ah (Mantan Mufti Agung Al-Azhar), pernah menyoroti bahaya keagamaan tanpa kedalaman tradisi ini:
_"Agama tanpa kedalaman ilmu dan sanad tradisi yang sahih hanya menjadi pedang tumpul yang melukai pemiliknya. Kesalehan sejati tidak pernah berteriak melayangkan kebencian, melainkan berbisik membawa kedamaian."_
— Syaikh Ali Jum'ah
Sejalan dengan hal tersebut, pujangga besar India penerima Nobel Sastra, Rabindranath Tagore, menguntai doa puitis tentang betapa berharganya ruang publik yang merdeka dari prasangka dan kebencian:
_"Di mana pikiran bebas dari rasa takut dan kepala ditegakkan dengan bangga; di mana dunia tidak terpecah-pecah oleh dinding-dinding sekat yang sempit... ke dalam surga kebebasan itulah, ya Tuhan, biarkan negeriku terbangun."_
— Rabindranath Tagore
IV. Dialektika Sejarah: Seloroh Kiai, Tuduhan Riswah, dan Nalar Tabayun
Guna menggambarkan betapa absurdnya gelombang fitnah digital yang acap kali menuding para kiai menerima suap (_riswah_) atau "amplop politik", sebuah anekdot jenaka khas pesantren menyajikan sindiran yang sangat renyah:
Alkisah, seorang aktivis muda mendatangi teras kediaman seorang Kiai sepuh dengan napas terengah-engah. Wajahnya tegang, jemarinya gemetaran menunjuk layar ponselnya.
_"Kiai! Gawat luar biasa, Kiai! Di TikTok dan Twitter ada narasi liar yang memfitnah Panjenengan dan PBNU! Katanya, para kiai NU sudah menerima suap berkarung-karung dan riswah miliaran rupiah dari para cukong untuk menjual fatwa dan mengamankan proyek!"_ seru si pemuda dengan muka memerah.
Kiai tua itu perlahan menghentikan penanya. Beliau melepas kacamata bacanya, lalu memandang santrinya dengan tatapan heran.
_"Miliaran? Berkarung-karung?"_ tanya Kiai dengan dahi berkerut.
_"Iya, Kiai! Diksi mereka di media sosial liar sekali! Katanya Kiai-Kiai NU itu sarapan uang suap, makan siang riswah, dan camilan sorenya dana hibah!"_ tegas si pemuda heboh.
Kiai tua itu mendadak menghela napas panjang, lalu berteriak memanggil istrinya ke dapur: _"Bune! Oalah Bune... tolong ke sini sebentar!"_
Ibu Nyai keluar membawa piring berisi singkong rebus yang masih berasap. _"Ada apa, Pak Yai?"_
_"Ini loh, Bune... Menurut 'pakar intelijen netizen' di internet, saya ini ternyata jutawan baru yang habis dapet riswah berkarung-karung. Coba Bune cek di bawah kasur kita atau di belakang lemari kitab, ada karung uang nyelip tak?"_
Ibu Nyai tertawa terkekeh: _"Uang berkarung-karung yang bagaimana itu, Pak Yai! Wong kemarin njenengan mau beli sarung merek Gajah Bengkak yang baru saja perlu keliling pasar nyari diskonan! Lha wong beras di gentong tinggal dua liter, kok dibilang nampung duit berkarung-karung!"_
Si pemuda tertegun bingung: _"Tapi Kiai, tuduhan riswah dan suap ini liar sekali! Kalau kita tidak bikin konferensi pers balasan, nanti publik percaya kalau Kiai-Kiai NU memang doyan amplop!"_
Kiai tua menyruput kopi hitamnya yang panas, lalu tersenyum sangat jenaka:
_"Nak, riswah itu artinya suap untuk mengubah hukum yang haram jadi halal. Lha wong kiai-kiai NU itu disuruh mengubah tradisi tahlilan jadi konsert metal saja ndak bakal mau, kok dituduh dijual pakai uang suap? Kalau ada orang nuduh kiai nampung suap miliaran tapi kiainya tetap tidur di atas kasur kapuk yang sudah kempos dan makanannya tetap sambal terasi sama kerupuk blek, itu yang goblok yang nuduh atau yang dituduh?"_
Si pemuda mulai tersenyum meringis.
_"Makanya ada yang namanya Tabayun,"_ lanjut Kiai tua sembari terkekeh. _"Tabayun itu riset berbasis kenyataan, bukan halusinasi berbasis algoritma. Orang kalau sudah kebenciannya naik ke kepala, lihat kiai diberi amplop berisi uang syukuran kelahiran bayi saja dibilang suap oligarki! Kalau semua omongan liar di internet harus dilayani tanpa tabayun, nanti energi NU habis cuma buat ngurusin orang-orang yang halusinasi!"_
Anekdot penuh kelakar ini bukan bentuk mengecilkan masalah, melainkan cermin dari keteguhan historiografi. Serangan tuduhan riswah yang tidak berdasar tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan kontribusi NU bagi bangsa. Namun, secara struktural, upaya melemahkan dan melegitimasi pilar kultural NU melalui isu korupsi dan suap tetap membawa dampak buruk bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia.
Dampak buruk tersebut terpancar pada dua ranah utama:
_1. Erosi Integrasi Nasional_
Ketika pilar moderasi diserang dan dilemahkan dengan isu moralitas, konsensus kebangsaan yang tertuang dalam Pancasila ikut terancam. Celah-celah radikalisme transnasional menjadi terbuka lebar, dan kerentanan konflik antarkelompok meningkat pesat.
_2. Degradasi Masyarakat Sipil (Civil Society)_
Lumpuhnya benteng peredam konflik membuat gerakan civil society kehilangan salah satu pilar utamanya. Suara-suara moderat yang sejuk perlahan dibungkam oleh bisingnya retorika ekstrem, sehingga ruang publik kehilangan kehangatan dan rasa saling percaya.
Cendekiawan dan ulama besar asal Persia, Abu Hamid Al-Ghazali (Imam Al-Ghazali), dalam karya monumentalnya _"Ihya 'Ulumuddin"_, menuliskan tentang pentingnya menjaga kelembutan hati di tengah gelombang permusuhan:
_"Apabila engkau melihat seseorang sibuk mencela dan mencari-cari keburukan orang lain, ketahuilah bahwa batinnya sedang sakit. Sebab jiwa yang sehat hanya akan memancarkan kedamaian, sebagaimana bunga yang mekar hanya akan menyebarkan harum bau kebunnya."_
— Imam Al-Ghazali
V. Kebijaksanaan Dunia: Rekonsiliasi Kebangsaan dan Kemanusiaan
Menjaga harmoni dan merawat lembaga penjaga kedamaian seperti NU bukanlah tugas warga nahdliyin semata, melainkan panggilan kemanusiaan bagi seluruh anak bangsa. Dalam _"Dokumen Persaudaraan Manusia"_ yang bersejarah di Abu Dhabi, Ulama Besar Al-Azhar Syaikh Ahmed el-Tayeb bersama Paus Fransiskus menegaskan pesan universal ini:
_"Tuhan telah menciptakan semua manusia setara dalam hak, kewajiban, dan martabat. Dialah yang memanggil kita untuk hidup bersama sebagai saudara dan saudari, menyebari bumi dengan nilai-nilai kebaikan, cinta, dan perdamaian."_
— Grand Sheikh Al-Azhar, Ahmed el-Tayeb
Pesan ini menggemakan kembali apa yang pernah diutarakan oleh Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), tokoh humanis dan mantan Ketua Umum PBNU yang amat dicintai:
_"Tidak penting apa pun agamamu atau kesukuanmu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu."_
— KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Bahkan aktivis kemanusiaan dan peraih Nobel Perdamaian dari Pakistan, Malala Yousafzai, menguatkan bahwa kedamaian hanya bisa dirawat jika kita melindungi mereka yang memperjuangkan toleransi:
_"Dengan kegelapan kita menyadari pentingnya cahaya. Kita menyadari pentingnya suara kita ketika kita dibungkam. Ekstremisme takut akan buku dan pena; mereka takut akan suara toleransi yang menyatukan."_
— Malala Yousafzai
VI. Kesimpulan dan Sintesis Akhir
Pada akhirnya, merenungi kembali pertanyaan awal kita: “Ketika NU diserang, para Kiai dilecehkan dan Muktamar didelegitimasi, siapa sesungguhnya yang paling dirugikan?”
*Jawabannya menjadi sangat jelas dan gamblang. Yang dirugikan bukan hanya jajaran pimpinan PBNU atau para kiai di pesantren, melainkan seluruh warga bangsa Indonesia, gerakan _civil society_, dan narasi Islam Moderat.*
Sebab ketika NU dilemahkan:
1. Bangsa ini kehilangan penyangga terdepan dari gempuran ideologi radikal yang ingin mengganti wajah Islam Nusantara yang ramah menjadi bersungut-sungut.
2. Gerakan masyarakat sipil (_civil society_) menjadi goyah, karena benteng peneduh sosialnya digerogoti dari dalam maupun luar.
3. Pihak luar yang tak menghendaki kedamaian Indonesia akan bersorak sorai, menyaksikan pilar kebangsaan saling bertikai dan kehilangan arah tabayun.
Merawat NU dan pilar-pilar kebudayaan moderat lainnya adalah cara terbaik bagi kita untuk merawat Indonesia. Di tengah era disrupsi dan pasjakebenaran ini, keikhlasan, kebiasaan tabayun, akhlakul karimah, serta keteguhan tradisi pesantren adalah pelita utama yang akan menjaga langkah Republik ini menuju masa depan yang damai dan bermartabat.
Sebagaimana pesan puitis pujangga besar Persia, Jalaluddin Rumi:
_"Janganlah menjadi lilin yang terbakar oleh angin kebodohan. Jadilah seperti mata air di tengah padang pasir; meski dilempari batu dan debu, ia tetap mengalirkan air jernih yang memberi kehidupan bagi siapa saja yang kehausan."_
— Jalaluddin Rumi
oleh: Gus Nas Jogja.(Red)

Tidak ada komentar