LESBUMI DALAM AGENDA SENI BUDAYA: ANTARA ORTODOKSI DAN AKULTURASI KOSMOPOLITAN
Saranapos.com,
I. Fajar Geometri Semesta dan Gema Dialektika Nusantara
Di fajar abad ke-21 yang sarat oleh gelombang digitalisasi dan otomatisasi kesadaran, kebudayaan manusia tidak lagi sekadar menjadi jejak sejarah, melainkan medan pertempuran ontologis tempat batas-batas identitas direkonstruksi secara radikal. Di tengah pusaran algoritma global dan serbuan homogenisasi budaya yang dingin, hadir sebuah lanskap peradaban yang berdenyut dalam ritme kosmik yang tak tertandingi: Nusantara.
Nusantara adalah panggung tempat sakralitas bertaut dengan profanitas, tempat yang transendental menubuh dalam gerak jemari penari, lekuk ukiran kayu, dan resonansi gamelan yang melintasi dimensi waktu.
Di ranah dialektika inilah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia atau Lesbumi memosisikan dirinya bukan sebagai benteng pertahanan pasif yang rapuh, melainkan sebagai mesin transformatif yang menyalakan api revolusi estetika. Lesbumi berdiri tegak di persimpangan dua kekuatan raksasa: keteguhan ortodoksi dogmatis yang berhasrat menyucikan dan daya jelajah akulturasi kosmopolitan yang senantiasa melintasi batas-batas geopolitik serta kultural. Lebih dari sekadar entitas kebudayaan, Lesbumi adalah jembatan epistemologis yang menjahit pecahan-pecahan kesadaran spiritual dengan imajinasi kebudayaan, melahirkan suatu artikulasi keindahan yang merobohkan sekat-sekat ortodoksi kaku dan merevolusi cara manusia mengalami Yang Ilahi di bumi.
Visi ini berkelindan erat dengan cita-cita pendiri Lesbumi, H. Djamaluddin Malik, yang menegaskan bahwa seni bukan sekadar instrumen hiburan dangkal, melainkan alat perjuangan kebudayaan untuk menegakkan martabat Umat dan Bangsa. Dalam perspektif ini, kebudayaan dipandang sebagai gelanggang emansipasi spiritual dan sosial. Gagasan tersebut diperkaya oleh pandangan filosofis Usmar Ismail yang memosisikan sinematografi dan seni modern sebagai ruang artikulasi moral yang jujur, serta Asrul Sani yang memancarkan gagasan "Surat Kepercayaan Gelanggang"—bahwa kebudayaan Indonesia adalah ahli waris yang sah dari seluruh peradaban dunia. Seperti yang diungkapkan Asrul Sani, kesenian adalah usaha manusia untuk memberi bentuk pada kebenaran dan keadilan yang hidup dalam jiwa manusia, sehingga akulturasi kosmopolitan merupakan takdir sejarah yang tak terelakkan.
II. Ontologi Tekstual versus Fluiditas Aksara Lokal: Dialektika Ortodoksi dan Akulturasi Kosmopolitan
Ketegangan antara ortodoksi dan akulturasi kosmopolitan pada hakikatnya merupakan refleksi dari benturan ontologis antara teks yang terstruktur konstan dan realitas sosial-global yang dinamis. Ortodoksi keagamaan sering kali berpijak pada kecenderungan literalistik-positivistik, di mana kebenaran diperas hingga menjadi dogma yang beku, serba terbatas, dan tertutup dari interkoneksi kultural. Dalam kacamata ortodoksi yang kaku, bentuk-bentuk ekspresi lokal maupun serapan kosmopolitan acap kali dicurigai sebagai pencemaran (_syncretism_) yang mengancam kemurnian ajaran spiritual.
Namun, jika kita menyelami filsafat seni, kebudayaan merupakan suatu proses pembentukan yang terus menerus (_becoming_). Lesbumi merevolusi cara pandang ini dengan mengajukan tesis bahwa ortodoksi dan akulturasi kosmopolitan bukanlah dua kutub biner yang saling memusnahkan, melainkan dua poros yang saling mengisi. Melalui revitalisasi kaidah metodologis fiqih kebudayaan—seperti prinsip _al-’adah muhakkamah_ (adat kebiasaan sebagai instrumen hukum/nilai)—Lesbumi membuktikan bahwa nilai-nilai kebudayaan lokal dan dinamika kosmopolitan memiliki keabsahan ontologis untuk menampung spirit keagamaan yang berkemanusiaan universal.
Dalam ranah filsafat dunia, dialektika ini sejajar dengan pandangan Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengenai perkembangan kesadaran sejarah melalui tesis, antitesis, dan sintesis. Friedrich Nietzsche mengingatkan bahaya kekakuan dogmatis yang dapat mematikan dorongan estetis _Dionysian_—energi vital kebudayaan yang terus mengalir dan mencipta. Sejalan dengan itu, sejarawan seni Islam ternama Oleg Grabar menegaskan bahwa seni Islam tidak pernah ditentukan oleh wujud formal yang beku atau tunggal, melainkan oleh kemampuannya menafsirkan ulang serta mengadaptasi ragam bentuk visual dan kultural tempatan tanpa kehilangan esensi keilahi-an yang transendental. Seni Islam bagi Grabar adalah "sebuah proses visual yang terus berdialog dengan konteks kosmopolitan", tempat di mana bentuk lokal disublimasikan menjadi bahasa universal.
* *Status Bentuk Lokal & Global:* Ortodoksi kaku memandangnya sebagai ancaman kemurnian ajaran, sedangkan Akulturasi Kosmopolitan Lesbumi menjadikannya wadah penyingkapan makna transendental universal.
* *Karakteristik Estetika:* Melintasi batasan restriktif-ikonoklastik menuju sifat organik, dinamis, kosmopolitan, dan sublim.
* *Metode Epistemologis:* Bertransisi dari tekstualisme-formalistis menuju fiqih kebudayaan dan hermeneutika batin cross-cultural.
III. Hermeneutika Batin: Mitos, Symbolon, dan Sublimasi Estetika Profetik
Dalam bingkai hermeneutika spiritual Lesbumi, karya seni dan simbol budaya tidak lagi dipandang sebagai sekadar artifak fisik (_zahir_), melainkan sebagai lorong metaforis yang menuntun kesadaran menuju realitas absolut (_batin_). Pertunjukan wayang kulit, misalnya, bukan sekadar penuturan epik mitologis kuno, melainkan suatu teater kosmik di mana bayang-bayang layar meretas ketidakberdayaan manusia di hadapan Sang Dalang Agung. Suara kelir dan tabuhan gamelan direkonseptualisasikan sebagai dzikrullah yang bergema dalam frekuensi budaya setempat dan menjangkau horizon spiritualitas global.
Proses ini bukanlah penyerahan pasif nilai Islam pada tradisi lokal, melainkan sebuah aksi sublimasi radikal berorientasi kosmopolitan. Mitos-mitos lokal didekonstruksi dan diisi ulang dengan nilai-nilai ketauhidan tanpa menghilangkan estetika organiknya. Pendekatan ini bertemu dengan fenomenologi agama Mircea Eliade mengenai _hierofani_—penampakan yang sakral dalam yang profan—di mana simbol-simbol lokal menjadi medium kehadiran Yang Ilahi. Begitu pula hermeneutika Paul Ricoeur tentang symbolon sebagai pemicu pemikiran (_"the symbol gives rise to thought"_), menegaskan bahwa simbol-simbol seni budaya lokal dan kosmopolitan menyimpan cadangan makna spiritual yang tak pernah habis dieksplorasi.
Lesbumi berhasil menghindarkan kebudayaan dari dua jurang ekstrem: puritanisme radikal yang cenderung membumihanguskan kebudayaan lokal, dan sekularisme kebudayaan yang mencabut keindahan seni dari akar nilai-nilai ketuhanannya. Hasilnya adalah lahirnya sebuah estetika profetik, yakni keindahan yang membakar jiwa dengan dorongan kesadaran etis dan spiritual universal.
IV. Agenda Budaya Kontemporer: Resistensi Terhadap Penyeragaman dan Disrupsi Manusia
Menghadapi tantangan abad ke-21, agenda seni budaya Lesbumi menemukan titik signifikansi baru yang kian mendesak. Dunia modern ditandai oleh dua ancaman kembar: neoliberalisme kebudayaan yang mereduksi seni menjadi sekadar komoditas pasar, serta kebangkitan puritanisme transnasional yang mempromosikan intoleransi terhadap keberagaman lokal. Di hadapan dua arus ini, strategi kebudayaan Lesbumi hadir sebagai tandingan revolusioner yang mempertahankan keanekaragaman hayati kebudayaan (_cultural biodiversity_) melalui kacamata akulturasi kosmopolitan.
Kritik Lesbumi terhadap komodifikasi budaya ini beresonansi dengan analisis Theodor Adorno dan Max Horkheimer mengenai 'Industri Budaya' atau _Culture Industry_ yang memusnahkan daya kritis serta keotentikan seni demi kepentingan kapitalisme global. Sementara itu, filsuf pascamodern Walter Benjamin mengingatkan bahaya hilangnya 'aura' sakral seni di era reproduksi mekanis dan komersialisasi masal. Lesbumi menjawab krisis ini dengan menawarkan ruang di mana tradisi dapat terus merevisi dan memperbarui dirinya tanpa kehilangan akar keilahiannya.
Strategi akulturasi kosmopolitan yang diusung menunjukkan bahwa nilai-nilai universalisme dapat mewujud secara konkret dan otentik dalam lokalitas sekaligus berdialog dengan peradaban dunia. Keberadaan seni tradisi yang bernafaskan keislaman menjadi wahana kritik sosial yang ampuh, menegaskan bahwa kebudayaan adalah arena perjuangan harkat dan martabat manusia di tengah disrupsi zaman.
V. Perjumpaan Luhur: Simfoni Transendensi di Bumi Nusantara
Secara keseluruhan, ketegangan antara ortodoksi dan akulturasi kosmopolitan dalam rahim Lesbumi tidak boleh dipahami sebagai keretakan historis yang memecah belah, melainkan sebagai simfoni dialektis yang menggerakkan peradaban. Ortodoksi menyediakan jangkar nilai etis-religius agar kebudayaan tidak kehilangan kompas spiritualnya, sementara akulturasi kosmopolitan menyuplai darah segar agar ajaran agama senantiasa relevan, berdenyut, dan mengakar dalam realitas kehidupan manusia melintasi batas-batas geografis.
Lesbumi telah membuktikan bahwa memelihara kesucian ajaran tidak harus dilakukan dengan memusnahkan kearifan lokal maupun menolak perjumpaan global. Lewat pendekatan estetika akulturatif yang humanis, kosmopolitan, dan transformatif, agama menemukan rumah sosialnya yang ramah, berkarakter, dan inklusif. Di sinilah seni dan budaya tidak lagi sekadar menjadi hiasan permukaan, melainkan menjadi wahana pembebasan manusia menuju keindahan kosmik yang transendental di bumi Nusantara.
oleh: Gus Nas Jogja.(Red)

Tidak ada komentar