Arsitektur Silaturahmi di Ndalem Gus Nas: Ikhtiar Menenun Jiwa Melayu dan Peradaban Nusantara
Saranapos.com, Sebuah jejak sejarah mengepul pelan dari cangkir teh di pelataran Ndalem Gus Nas, Wonokromo, Pleret, Bantul. Di tempat yang mengalirkan denyut spiritual dan kebudayaan Yogyakarta tersebut, *Tengku Srimaharaja Syahdana, Raja Ramunia VIII Kesultanan Serdang*—yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) DKI Jakarta Raya—melangkah menembus batas geografis untuk melingkari sebuah simpul silaturahmi. Ia bertandang menjumpai HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau yang lazim Gus Nas, seorang tokoh agama, budayawan nasional, sekaligus Ketua Dewan Pembina dan Penasehat ISMI.
Jawa Pos
Pertemuan ini bukan sekadar protokoler keorganisasian atau sekadar perjumpaan fisik antartokoh. Ia adalah representasi dari bertemunya air dan angin: keteguhan marwah Kebudayaan Melayu yang bernafaskan samudra, berpadu dengan kedalaman kearifan Nusantara yang tertanam kuat di tanah Jawa. Dari perjumpaan ini, terpancar sebuah esai filosofis tentang bagaimana persaudaraan intelektual dan kultural mampu merajut kembali rajutan peradaban yang kian tergerus zaman.
Hakikat Silaturahmi: Menembus Batas Geografis, Merawat Jiwa
Dalam pandangan jurnalisme filosofis, sebuah berita tidak cukup berhenti pada pertanyaan dasar apa, siapa, dan kapan. Berita sejatinya harus menangkap ruh (_esprit_) di balik peristiwa. Kunjungan Tengku Syahdana ke kediaman Gus Nas menyibak lapisan makna yang dalam mengenai hakikat silaturahmi intelektual.
Kubuku
Silaturahmi, dalam tradisi Melayu dan Islam, bukan semata tindakan bertamu. Ia adalah metode pengikatan jiwa (_rasa_), tempat di mana batas-batas administratif dan sekat geopolitik diluruhkan. Ketika seorang Sultan dari Trah Serdang melangkahkan kaki ke kawasan Pleret—sebuah situs bersejarah yang menyimpan napas peradaban Mataram—ada metafora kultural yang sangat kuat: Melayu tidak pernah berdiri terisolasi. Melayu adalah samudera terbuka yang senantiasa siap berdialog dengan sungai-sungai kearifan dari seluruh penjuru Nusantara.
Di Ndalem Gus Nas, ruang dialog berhembus seperti angin sore di Bantul: hening, penuh takzim, namun sarat daya dorong pemikiran. Di sinilah nilai esensial ISMI diuji—bukan sebagai organisasi sarjana yang dingin dan teknokratis, melainkan sebagai wadah penggerak kebudayaan yang bernyawa.
Literasi Budaya Melayu: Dari Tinta Sejarah menuju Sinergi Masa Depan
Melayu secara historis ditopang oleh dua pilar utama: bahasa (_literasi_) dan marwah (_etika_). Sejak era Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Malaka, hingga tradisi intelektual Riau-Lingga dan Sumatera Timur, kebudayaan Melayu senantiasa menempatkan pena dan kata sebagai senjata kebudayaan yang paling ampuh. Raja Ali Haji melalui Gurindam Dua Belas telah merumuskan bahwa keberadaban suatu bangsa diukur dari sejauh mana masyarakatnya merawat bahasa dan moralitasnya.
Dalam bentangan filosofis tersebut, perjumpaan antara Tengku Syahdana dan Gus Nas menggarisbawahi urgensi pembacaan ulang terhadap Literasi Budaya Melayu di tengah arus modernitas yang kian reduksionis. Literasi Melayu tidak boleh terhenti sebagai pusaka museum atau sekadar peninggalan manuskrip berdebu. Ia harus diartikulasikan ulang menjadi sinergi budaya yang hidup dan adaptif.
1. *Dialog Lintas Tradisi:* Melayu dan Jawa sering kali dipersepsikan sebagai dua kutub kultural yang berbeda—yang satu berorientasi bahari maritim-terbuka, yang lain berorientasi agraris dalam-kontemplatif. Namun, di Ndalem Gus Nas, perbedaan ini lebur menjadi simfoni. Gus Nas, dengan kedalaman sufistik dan wawasan kebudayaannya, memberikan pandangan bahwa Melayu dan Nusantara pada umumnya diikat oleh satu benang merah: spiritualitas Tauhid yang mengejawantah dalam estetika budi pekerti.
2. *Sarjana Melayu sebagai Jembatan Kebudayaan:* Sebagai pimpinan ISMI DKI Jakarta Raya, Tengku Syahdana membawa misi penting untuk menjadikan Jakarta—kota metropolitan yang serba cepat—sebagai panggung artikulasi pemikiran Melayu yang inklusif. Di sisi lain, petuah dan pandangan Gus Nas sebagai Penasehat ISMI mempertegas bahwa keberadaan sarjana Melayu harus mampu menjawab tantangan disrupsi zaman tanpa kehilangan akar ketauhidan dan keadatannya.
Sinergi Budaya sebagai Imperatif Moral
Pertukaran gagasan di Pleret melahirkan sebuah kesadaran kritis: sinergi budaya tidak dapat dibangun di atas fondasi komersialisasi semata, melainkan harus dilandasi oleh kecintaan pada keilmuan dan kerendahan hati.
Dalam perbincangan hangat tersebut, mengemuka gagasan-gagasan strategis tentang bagaimana ISMI dapat berperan aktif dalam merajut literasi Nusantara. Kebudayaan Melayu yang ramah, santun, dan menjunjung tinggi kehormatan, harus menjadi tawaran etis bagi dinamika kebangsaan hari ini. Ketika dunia modern terjebak dalam krisis identitas dan polarisasi sosial, nilai-nilai Melayu seperti tahu diri, tahu asal mula, dan tahu jalan kembali menjadi kompas moral yang sangat relevan.
Sultan Serdang Tengku Syahdana menegaskan komitmennya untuk membawa semangat kepemimpinan yang berwawasan budaya, sementara Gus Nas memberikan penguatan spiritual bahwa perjuangan mengibarkan marwah kebudayaan adalah bentuk ibadah sosial (_muamalah_) yang luhur.
Epilog: Untaian Puisi untuk Pertemuan Dua Sahabat Kebudayaan
Sebagai penutup liputan mendalam ini, perjumpaan di tanah Pleret tersebut diabadikan dalam untaian bait puisi:
_Di pelataran Pleret tanahnya bertafakur,_
_Angin Bantul berbisik lembut dalam hening yang jujur,_
_Sultan dari Serdang datang mengusung marwah dan jalur,_
_Menjinjing wangi Melayu yang tak pernah luntur._
_Di Ndalem Gus Nas, tempat ilmu dan rasa berpadu,_
_Cangkir-cangkir tradisi menyeduh rindu,_
_Bukan sekadar kata, bukan sekadar lalu,_
_Tapi ikrar peradaban untuk jaman yang baru._
_Melayu adalah samudra, Jawa adalah muara,_
_Dalam ISMI mereka bertaut merajut Nusantara,_
_Bahasa menjadi suluh, budi menjadi mahkota,_
_Menjaga Indonesia tetap bermartabat dan bercahaya.(Red)

Tidak ada komentar