RIAK-RIAK KECIL MUKTAMAR NU DALAM LAUTAN ILMU PARA MUASIS
Saranapos.com, "Politik jam’iyyah sering kali seperti gelombang dangkal yang memercikkan buih di permukaan. Namun jauh di kedalaman yang sunyi, samudera karamah dan warisan keilmuan para Pendiri—Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil Bangkalan, dan Mbah Wahab Hasbullah—tetap mengalir tenang, mengawal perjalanan zaman tanpa pernah kehilangan sucinya."_
Pendahuluan:
Perjumpaan Profan dan Sakral di Arena Jam’iyyah
Muktamar Nahdlatul Ulama bukanlah panggung politik sekuler yang diukur sebatas perebutan pengaruh formal atau kemenangan angka-angka elektoral. Dalam kosmologi kebudayaan pesantren, Muktamar adalah arena riyadhah massal, sebuah perjumpaan antara hukum-hukum sejarah yang profan dan Takdir Ilahi yang sakral. Ketika persidangan Muktamar ke-35 diwarnai kecemasan, perdebatan sengit antar-faksi, hingga pergeseran mendasar dalam aturan tata cara pemilihan, pengamat luar mungkin menyangkanya sebagai krisis struktural yang mengancam kepemimpinan jam’iyyah.
Namun bagi mereka yang menatapnya melalui kacamata filsafat keagamaan dan mistisisme Islam Nusantara, seluruh kegaduhan itu hanyalah riak-riak kecil di permukaan—letupan buih ephemeral yang mengapung di atas lautan ilmu, doa, dan tirakat para muassis (para pendiri NU) yang mahaluas tak bertepi.
Keputusan bersejarah pada Sidang Pleno III yang secara dramatis menghentikan sistem voting terbuka (_one man one vote_) dan menggantikannya secara mutlak dengan mekanisme *Ahlul Halli wal 'Aqd (AHWA)*—lewat perolehan suara telak 401 setuju berbanding 150 menolak dari total DPT 552 suara—merupakan sebuah peristiwa purifikasi epistemologis yang teramat agung. Peristiwa ini melampaui sekadar kalkulasi kemenangan taktis kelompok tertentu. Ia adalah bentuk pertobatan ontologis organisasi, sebuah momen ketika ruh Jam’iyyah Nahdlatul Ulama berontak terhadap dekadensi liberalisme politik, lalu kembali bersujud dan menenggelamkan diri ke dalam kedalaman tradisi syura para ulama arif billah.
_1. Ontologi Keilmuan Muassis: Samudera Kedalaman vs Percikan Permukaan_
Untuk memahami hakikat Muktamar NU, kita harus membedakan antara wujud zahir organisasi dan wujud batin jam’iyyah:
* *Wujud Zahir Organisasi:* Bergerak di dalam struktur AD/ART, sidang pleno, dinamika DPT, dan pertarungan pengaruh antar-pengurus wilayah maupun cabang (PWNU dan PCNU). Di ranah zahir inilah riak-riak kecil itu tercipta: ketegangan antar-kandidat, intrik lobby malam hari, hingga perdebatan mengenai keabsahan berkas persidangan.
* *Wujud Batin Jam'iyyah:* Sebuah lautan keilmuan (_bahrul 'ulum_) yang bersumber dari sanad emas para muassis—sebuah himpunan turats, maqam spiritual, keberkahan kitab kuning, serta air mata tirakat para ulama sepuh yang dihimpun sejak era Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Kholil Bangkalan.
Sistem pemilihan _one man one vote_ yang diimpor dari doktrin demokrasi liberal Barat memiliki cacat ontologis yang mendasar ketika diterapkan di dalam tubuh jam’iyyah ulama. Demokrasi liberal memandang setiap suara secara kuantitatif-atomis, di mana suara seorang ulama berilmu samudera disepadankan secara mekanis dengan suara pengurus yang rentan tergiur oleh pragmatisme politik transaksional. Sistem ini telah menyulut perpecahan dan menjadikan Muktamar arena komodifikasi suara.
Keputusan 401 berbanding 150 suara untuk mengembalikan pemilihan Ketum kepada mekanisme AHWA adalah manifestasi dari kemenangan kesadaran kultural pesantren. Melalui AHWA, NU menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan tertinggi bukanlah bentukan dari populisme massa yang _volatil,_ melainkan pancaran dari aristokrasi spiritual dan kedalaman ilmu nafi' para kiai sepuh.
*Dialektika Epistemik Pesantren:*
* *Dalam filsafat keilmuan Islam, _al-'ilmu nurun_ (ilmu adalah cahaya) yang tidak dapat bersemayam dalam jiwa yang dipenuhi ambisi kekuasaan (_hubbul jah_). AHWA hadir sebagai alat pembersih epistemik yang menyaring kebisingan politik massa dan mengembalikan penentuan arah organisasi kepada sembilan ulama pilihan yang diyakini memiliki ketajaman batin (_bashirah_) serta kebersihan niat.*
_2. Hermeneutika Penundaan: Adab Intizhar dan Tabir Ketidakpastian Rais Aam_
Dinamika Muktamar ke-35 yang mengalami keterlambatan jadwal secara signifikan—di mana persidangan molor hingga Minggu fajar dan diproyeksikan berlanjut mendekati penutupan di hari Senin—menyampaikan pesan hermeneutik yang teramat mendalam bagi pencari kebenaran. Di tengah modernitas yang mengagungkan efisiensi teknokratis dan kepastian serba cepat, proses hukum organisasi di NU yang meliuk dan melambat sering dinilai sebagai ketidakrapihan manajerial. Padahal, dalam pandangan keagamaan pesantren, penundaan tersebut adalah adab _al-intizhar_—sebuah jeda spiritual yang disediakan oleh Langit agar emosi manusiawi mengendap dan hawa nafsu kepemimpinan luruh sebelum keputusan puncak diambil.
Ketidakpastian ini juga membiaskan desas-desus prematur mengenai terpilihnya figur ulama besar seperti KH Said Aqil Siroj sebagai Rais Aam terpilih. Sosok KH Said Aqil Siroj tidak diragukan lagi. Namun, menyebarkan klaim kemenangan sebelum sembilan ulama AHWA bermusyawarah dalam sidang tertutup adalah bentuk kesombongan epistemik (_epistemic hubris_).
Dalam adab pesantren, kebenaran tidak boleh didahului oleh asumsi. Urutan ritual hukum Muktamar—dimulai dari penetapan 9 AHWA, sidang hening AHWA, penetapan Rais Aam, hingga musyawarah bersama menentukan Ketua Umum—harus dijalani dengan khusyuk dan thuma'ninah.
_*"Takdir kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama tidak ditetaskan di atas kertas suara yang bising, melainkan dirajut dalam keheningan musyawarah para ulama yang jiwanya terikat pada keridaan Allah dan syafaat Rasulullah SAW."*_
_3. Sanad Tebuireng dan Dialektika Takdir: Posisi Gus Kikin_
Dalam pusaran kontestasi kepemimpinan Tanfidziyah yang menghadirkan deretan nama tokoh muda dan berpengalaman—seperti Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz), Gus Yahya, Gus Yusuf, Gus Rozin, hingga Gus Salam—posisi Gus Kikin memancarkan daya tarik filosofis-spiritual yang amat khas. Sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur, beliau berdiri di atas pijakan modal kultural (_cultural capital_) dan modal simbolik yang sangat sakral dalam tradisi Nahdliyin.
Pesantren Tebuireng bukanlah sekadar lembaga pendidikan Islam; ia adalah *axis mundi*—pusat kosmologis di mana Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menanam pilar-pilar pertama jam’iyyah ini dengan riyadhah dan puasa bertahun-tahun. Ketika mekanisme pemilihan berubah secara radikal menuju seleksi AHWA, Gus Kikin yang berada dalam kelompok kandidat pendorong AHWA menunjukkan konsistensi adab: ketidakinginan untuk merebut kekuasaan melalui pertempuran _one man one vote_, melainkan kesiapan untuk dinilai secara substansial oleh kiai sepuh. Harapan agar Gus Kikin memimpin PBNU adalah manifestasi dari kerinduan kultural warga NU untuk menyaksikan menyatunya kembali mata air keikhlasan Tebuireng dengan manajerial modernisasi organisasi di era disrupsi.
Namun demikian, filsafat keagamaan NU selalu berpesan tentang _tafwidh_ (penyerahan pasrah). Pertarungan di tingkat AHWA dan Rais Aam bukanlah kontestasi mekanis berbasis kalkulasi politik modal. Ia adalah pertarungan yang halus, batiniah, dan metafisik. Siapa pun yang akhirnya diputuskan oleh Rais Aam bersama 9 Anggota AHWA untuk memegang kepemimpinan Tanfidziyah 2026–2031, hal itu dianggap sebagai takdir yang telah digariskan oleh kehendak Lauh Mahfuzh bagi kemaslahatan umat.
_4. Epilog: Melampaui Muktamar, Menyelami Keikhlasan Abadi_
Pada akhirnya, ketika gemuruh Muktamar ke-35 PBNU mereda, palu sidang ditutup, dan seluruh peserta kembali ke pelosok desa dan bilik pesantrennya masing-masing, riak-riak kecil Muktamar—mulai dari voting 401 vs 150 suara, kemoloran jadwal, hingga dinamika bursa calon—akan terserap dan larut kembali ke dalam lautan ilmu para muassis yang mahaluas.
Muktamar ini telah memberikan pelajaran filsafat kebudayaan yang abadi bagi bangsa Indonesia: bahwa kekuasaan tertinggi di dalam rumah besar NU tidak boleh ditukar dengan koin-koin pragmatisme politik Barat. Melalui tradisi AHWA, NU berhasil menjaga marwah kepemimpinannya agar tetap tersambung dengan sanad keilmuan, adab musyawarah, dan kearifan para muassis. Di atas lautan ilmu Mbah Hasyim, Mbah Kholil, dan para wali Nusantara, Jam’iyyah Nahdlatul Ulama akan terus berlayar menembus zaman—menjadi peneduh bagi jagat raya, merawat peradaban bangsa, dan memelihara keheningan iman di tengah hiruk-pikuk dunia.
oleh: Gus Nas Jogja.(Red)

Tidak ada komentar