Breaking News

MENANAM ASA DI BUMI TEJOASRI: IKHTIAR AKADEMISI MENGAWAL KEDAULATAN PANGAN DESA


Lamongan, Saranapos.com, Di bawah terik matahari Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sebuah entitas ekonomi bernama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) "Bahagia Selalu" di Desa Tejoasri tengah bergulat dengan tantangan pertumbuhan. Lahir dengan visi mulia menjadi motor penggerak ekonomi berbasis pertanian, BUMDes ini menyadari bahwa semangat saja tidak cukup tanpa fondasi tata kelola yang tangguh.

Keresahan itulah yang membawa Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Airlangga (UNAIR) hadir di ruang rapat BUMDes pada Kamis (16/7/2026). Kehadiran mereka bukan sekadar pemenuhan formalitas akademik dalam koridor Tri Dharma Perguruan Tinggi, melainkan upaya membumikan ilmu hukum dan manajemen agar berdaya guna langsung bagi warga desa.


Menjawab Kebutuhan Desa

Dalam sambutannya, Kepala Desa Tejoasri, Yusuf Bachtiar, S.IP., secara terbuka menyampaikan tantangan yang dihadapi desanya. Meski BUMDes "Bahagia Selalu" telah merintis unit usaha potensial seperti perikanan, greenhouse melon, dan pengolahan lahan pertanian, lembaga yang baru berusia satu hingga dua tahun ini masih meraba arah pengembangan.

"Desa sering kali kebingungan merespons berbagai intervensi program dari pusat. Di tengah keterbatasan sumber daya, kami sangat membutuhkan pendampingan intensif agar pengelolaan BUMDes bisa lebih optimal dan berdampak bagi warga," ujar Yusuf di hadapan jajaran pemerintah desa, Direktur BUMDes "Bahagia Selalu" Nur Hidayati, S.H., M.H., beserta pengurus, serta Pimpinan BPD beserta jajaran pengurusnya.

Yusuf menambahkan, urgensi penguatan ini kian nyata mengingat Peraturan Menteri Desa (Permendes) Nomor 3 Tahun 2025 menempatkan isu ketahanan pangan sebagai program prioritas bagi BUMDes. Kedepannya, BUMDes "Bahagia Selalu" bahkan berencana memperluas cakupan ke sektor pengelolaan sampah dan air bersih.



Menyambung Benang Kusut Kelembagaan

Di lapangan, Desa Tejoasri menghadapi tantangan klasik: belum adanya dokumen legalitas yang mumpuni serta keterbatasan pemahaman pengurus mengenai manajemen bisnis. Sering kali, BUMDes terjebak pada operasional yang sporadis tanpa arah strategis.

Dalam forum tersebut, dua narasumber kunci hadir membawa "peta jalan" yang komprehensif. Dr. Lanny Ramli, S.H., M. Hum., membedah aspek hukum tata kelola BUMDes. Ia menekankan bahwa BUMDes bukan sekadar entitas bisnis biasa, melainkan badan usaha yang modalnya berasal dari kekayaan desa yang dipisahkan untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Lanny memandu warga memahami pentingnya Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta SOP internal sebagai guideline bagi usaha desa agar tidak melanggar rambu-rambu hukum.

Di sisi lain, Yanuar Nugroho, S.E, M.Sc., Ak., CA., ACPA., HC., AWP., membawa pendekatan yang lebih taktis melalui Business Model Canvas (BMC). Yanuar menjelaskan bahwa BMC adalah alat navigasi bagi pengurus BUMDes untuk memetakan hubungan logis antarkomponen usaha. Dengan model ini, pengurus diajak berpikir kritis: siapa target pasarnya, apa nilai tambah produk mereka, dan seterusnya. Bagi masyarakat desa yang terbiasa dengan metode konvensional, visualisasi model bisnis ini membuka cakrawala baru bahwa mengelola BUMDes bisa dilakukan secara modern, terukur, dan profesional.



Kampus yang Berdampak

Apa yang dilakukan tim UNAIR di Tejoasri adalah cerminan dari semangat UNAIR sebagai "kampus yang berdampak". Inisiatif ini tidak berjalan di ruang hampa. Program ini terintegrasi dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), di mana keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan di lapangan menjadi sarana pembelajaran sekaligus bentuk bakti sosial yang substansial.

Kampus, dalam pandangan UNAIR, bukan lagi menara gading. Ia adalah laboratorium terbuka di tengah masyarakat. Melalui pendampingan ini, UNAIR berusaha menjembatani kesenjangan antara teori di kelas dengan realitas di pedesaan.

"Kami ingin memastikan bahwa kehadiran universitas di desa bukan sekadar singgah lalu pergi. Kami ingin meninggalkan jejak berupa kemandirian. Instrumen yang kita bantu damping mulai hari ini adalah modal bagi mereka untuk berjalan sendiri di masa depan," tambah Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR, Dr. Wilda Prihatiningtyas, S.H., M.H..

 Menuju Desa Tangguh Pangan

Bagi Desa Tejoasri, pendampingan ini adalah titik balik. Harapannya, BUMDes "Bahagia Selalu" tidak lagi hanya menjadi pelengkap struktur desa, melainkan benar-benar menjadi katalis ketahanan pangan nasional dari tingkat akar rumput.

Di ujung hari, keberhasilan pengabdian masyarakat ini tidak diukur dari berapa banyak materi yang disampaikan, tetapi sejauh mana masyarakat desa memiliki daya untuk berdaulat atas sumber daya mereka sendiri. UNAIR telah membuktikan bahwa di balik tembok-tembok ruang kuliah, terdapat tanggung jawab moral untuk merawat masa depan bangsa, satu desa demi satu desa.

Semangat dari Lamongan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan nasional bukan sekadar jargon politik, melainkan buah dari manajemen yang baik, legalitas yang jelas, dan kepedulian dari elemen masyarakat terdidik yang mau turun tangan. Di tangan para akademisi dan warga desa yang bahu-membahu, harapan akan desa yang tangguh perlahan tumbuh, menebar janji keberlanjutan bagi Indonesia.(Red)

Tidak ada komentar