Breaking News

Riyaya Undhuh-Undhuh GKJW Mojowarno, Tradisi Syukur yang Menyatukan Budaya


Jombang, Saranapos.com, Gereja Kristen Jawi Wetan atau yang lebih dikenal dengan GKJW kembali menggelar tradisi tahunan Riyaya Undhuh-Undhuh dengan penuh kemeriahan di kawasan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Perayaan yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa Kristen ini tidak hanya menjadi momentum ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi simbol persatuan, pelestarian budaya, serta harmonisasi antarumat beragama.

Riyaya Undhuh-Undhuh sendiri merupakan tradisi khas masyarakat GKJW yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas berkat, rezeki, dan hasil bumi yang melimpah selama satu tahun terakhir. 

Dalam tradisi tersebut, jemaat membawa berbagai hasil pertanian seperti padi, jagung, sayuran, buah-buahan, hingga aneka hasil kebun lainnya untuk dipersembahkan di gereja. Seluruh hasil bumi tersebut menjadi lambang pengakuan bahwa segala berkat kehidupan berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selain sebagai kegiatan keagamaan, Riyaya Undhuh-Undhuh juga menjadi sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga. Nuansa budaya Jawa sangat terasa dalam setiap rangkaian acara, mulai dari penggunaan pakaian adat, iringan gamelan, kirab hasil bumi, hingga pagelaran seni tradisional yang selalu dinantikan masyarakat.

Perayaan Riyaya Undhuh-Undhuh di GKJW Mojowarno tahun 2026 berlangsung selama dua hari dan dipadati ribuan masyarakat dari berbagai daerah. Pada hari pertama, panitia menyelenggarakan pesta seni dan budaya yang menghadirkan beragam pertunjukan tradisional khas Jawa. Acara tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk ikut melestarikan budaya daerah sekaligus mengenalkan nilai-nilai kebersamaan kepada masyarakat luas.

Berbagai penampilan seni seperti tari tradisional, karawitan, campursari, hingga pertunjukan budaya rakyat tampil memeriahkan suasana. Lapangan dan area gereja dipenuhi masyarakat yang antusias menikmati setiap sajian hiburan yang disiapkan panitia. Tidak hanya jemaat GKJW, masyarakat umum dari berbagai latar belakang agama dan budaya juga tampak hadir menikmati kemeriahan acara.

Memasuki hari kedua, suasana semakin semarak dengan digelarnya kirab hasil bumi dari berbagai blok gereja yang berada di wilayah Desa Mojowarno dan Desa Mojowangi. Kirab tersebut menjadi puncak visual dari tradisi Undhuh-Undhuh yang sarat makna spiritual dan budaya.

Ratusan warga berjalan beriringan sambil membawa aneka hasil panen yang dihias dengan kreatif dan artistik. Ada yang membentuk gunungan hasil bumi, miniatur tradisional, hingga dekorasi bernuansa Jawa yang menarik perhatian masyarakat. Sepanjang jalan, warga tampak antusias menyaksikan arak-arakan sambil mengabadikan momen tersebut.

Kirab hasil bumi ini bukan sekadar parade budaya, melainkan simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan panen yang diberikan selama setahun terakhir. Tradisi tersebut juga mengajarkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian sosial antarwarga.

Puncak perayaan Riyaya Undhuh-Undhuh berlangsung pada Minggu malam, 10 Mei 2026, dengan digelarnya pagelaran wayang kulit semalam suntuk di lapangan GKJW Mojowarno. Acara budaya tersebut menghadirkan dalang kondang Ki Anom Dwijo Kangko, S.Sn, yang dikenal luas dengan gaya pementasan yang menarik dan dekat dengan masyarakat.

Tidak hanya wayang kulit, kemeriahan malam puncak juga semakin lengkap dengan hadirnya grup lawak khas Jawa Timur Percil CS yang sukses menghibur ribuan penonton. Gelak tawa masyarakat pecah sepanjang pertunjukan berlangsung. Kombinasi antara seni pedalangan, musik gamelan, dan lawakan tradisional menjadikan suasana semakin hidup dan penuh keakraban.

Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Lapangan GKJW Mojowarno dipadati penonton dari berbagai kalangan. Menariknya, tidak hanya jemaat gereja yang hadir, masyarakat Muslim dan warga dari berbagai agama juga turut memeriahkan acara tersebut. Kehadiran lintas agama ini menjadi gambaran nyata tentang kuatnya toleransi dan kerukunan di tengah masyarakat Mojowarno.

Tradisi Riyaya Undhuh-Undhuh memang telah lama dikenal sebagai ruang budaya yang mampu menyatukan masyarakat tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang. Semangat kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan tersebut menjadi contoh nyata kehidupan sosial yang harmonis di Kabupaten Jombang.

Tradisi Turun-Temurun Sejak Tahun 1930, Kepala Desa Mojowangi, Pramono Hadi, mengatakan bahwa Riyaya Undhuh-Undhuh merupakan tradisi tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh komunitas GKJW di Mojowarno sejak tahun 1930.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Mojowarno. Nilai spiritual, budaya, dan sosial berpadu menjadi satu dalam perayaan tersebut.

“Riyaya Undhuh-Undhuh adalah ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen selama setahun. Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1930 dan terus dijaga sampai sekarang sebagai warisan budaya dan iman,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberlangsungan tradisi ini menunjukkan kuatnya semangat masyarakat dalam menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman modern. Selain itu, perayaan Undhuh-Undhuh juga menjadi daya tarik budaya dan wisata religi yang mampu menarik perhatian masyarakat luas.

Menurut Pramono Hadi, keterlibatan masyarakat lintas agama dalam setiap rangkaian acara menunjukkan bahwa kehidupan toleransi di Mojowarno berjalan dengan baik. Ia berharap tradisi Riyaya Undhuh-Undhuh dapat terus dilestarikan oleh generasi muda agar nilai-nilai budaya, gotong royong, dan kerukunan tetap hidup di tengah masyarakat.

Perayaan Riyaya Undhuh-Undhuh GKJW Mojowarno tahun 2026 pun kembali membuktikan bahwa budaya dapat menjadi jembatan persaudaraan. Dalam suasana penuh syukur, masyarakat berkumpul tanpa sekat, menikmati kebersamaan, seni tradisional, serta memperkuat nilai toleransi yang telah lama tumbuh di tanah Mojowarno.(Red)

Tidak ada komentar