Hujan Lebat Picu Banjir di Plandaan Jombang, Warga Desa Pojok Klitih Kembali Terdampak
Jombang, Saranapos.com, Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dalam beberapa hari terakhir kembali menimbulkan bencana banjir di sejumlah titik.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kecamatan Plandaan, tepatnya di Desa Pojok Klitih, yang memang dikenal sebagai daerah rawan genangan air saat musim hujan tiba.
Hujan deras yang turun hampir setiap hari menyebabkan debit air sungai di sekitar desa meningkat signifikan. Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase yang kurang optimal, sehingga air dengan cepat meluap dan menggenangi permukiman warga.
Banjir pun tak terhindarkan, terutama di Dusun Pojok Klitih yang menjadi langganan terdampak setiap kali hujan dengan intensitas tinggi turun.
Peristiwa banjir terbaru terjadi pada Senin malam (30/03/2026). Hujan yang mulai turun sejak sore hari terus berlanjut hingga malam tanpa henti.
Akibatnya, air sungai meluap dan masuk ke rumah-rumah warga.
Genangan air terlihat merendam hampir seluruh halaman hingga bagian dalam rumah, membuat aktivitas masyarakat lumpuh.
Sejumlah warga tampak berupaya menyelamatkan barang-barang berharga mereka ke tempat yang lebih tinggi.
Perabotan rumah tangga seperti kursi, lemari, hingga peralatan elektronik diungsikan seadanya untuk menghindari kerusakan.
Sementara itu, anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling terdampak karena keterbatasan mobilitas saat banjir datang secara tiba-tiba.
Kamaroh, salah satu warga Dusun Pojok Klitih, mengungkapkan bahwa banjir seperti ini bukanlah kejadian pertama.
Ia menyebut kondisi tersebut sudah menjadi langganan setiap musim penghujan.
“Biasanya kalau banjir melanda, air bisa sampai setengah meter lebih. Bahkan kadang masuk ke dalam rumah dan bertahan cukup lama,” ujarnya.
Menurutnya, warga sudah berulang kali mengeluhkan kondisi tersebut, namun hingga kini belum ada solusi konkret yang mampu mengatasi persoalan banjir secara menyeluruh.
Ia berharap pemerintah daerah dapat segera turun tangan untuk memberikan penanganan yang lebih serius.
“Kami berharap pemerintah kabupaten maupun desa bisa segera mencari solusi.
Entah itu normalisasi sungai, perbaikan saluran air, atau pembangunan tanggul agar banjir tidak terus terjadi setiap tahun,” tambahnya.
Selain merendam rumah warga, banjir juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Sejumlah warga yang memiliki usaha rumahan terpaksa menghentikan aktivitasnya sementara waktu.
Jalan desa yang tergenang air juga menyulitkan akses transportasi, sehingga mobilitas warga menjadi terbatas.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terutama jika hujan dengan intensitas tinggi masih terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Warga berharap adanya langkah cepat dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan darurat maupun upaya jangka panjang untuk mencegah terulangnya bencana serupa.(Red)

Tidak ada komentar